Ganti atau Tetap?

Sore itu seorang gadis remaja di awal usia 20-an nya sedang berbincang-bincang hangat dengan kawan-kawannya. Ketika anak remaja berkumpul, sudah tentu banyak sekali yang mereka bicarakan. Mulai dari membicarakan dosen, tugas, masalah cinta hingga politik sekali pun. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berujar.

“Indonesia jadi gini nih sekarang, kacau balau, gara-gara presiden pilihanmu. Esok 2019 ganti saja!”

Sambil melihat gadis itu, nadanya terkesan agak keras dan geram. Ia mulai bermain argumen. Beberapa dari mereka, mulai manggut-manggut. Entah paham atau tidak. Gadis itu hanya diam, merasa tertuduh dan sedikit heran. Bagaimana temannya bisa tahu pilihannya 4 tahun silam? Apa indikator sang kawan menyatakan negara ini kacau balau? Lalu sejak kapan, bangsa ini “tidak dikatai kacau”? dan sejak kapan preferensi politik seseorang bisa disalahkan atau dibenarkan?

Gadis itu tidak bisa menjawab atau melawan. Apabila ia berbicara ia khawatir pembenaran yang ia ucapkan adalah sebuah kesalahan. Hidupnya sudah penuh lika liku (menurutnya) mulai dari nilai C yang hampir selalu mampir setiap semester, masalah hati yang tak lagi merah jambu, tapi kelabu hingga masalah besok dia mau makan apa di kos-kosan. Bukannya ia juga rakyat, yang mirip pejabat, masalah pribadinya juga penuh riuh berkelebat. Betul tidak?

Ia menghela napas. Tersenyum simpul. //

Ganti presiden, atau tetap itu terserah kamu, kawanku. Asal kita satu.


“Mari renungkan, membaca, tulisan yang agak sedikit berat di bawah ini. Hidup jangan ringan-ringan saja, kadang perlu yang berat, biar ada nilainya jika ditimbang.”

#2019GantiPresiden ?

Kita semua sebagai rakyat pasti pernah bermimpi dan berharap memiliki sosok pemimpin/presiden yang sukses, amanah, adil, dan peduli terhadap agama dan negara. Namun, pernahkah kita berpikir, atau setidaknya terlintas sekilas saja di pikiran kita, bahwa pemimpin adalah potret keadaan kita semua, rakyatnya, yang dipimpinnya. Kita seolah lupa dan terlenakan, disibukkan [entah oleh siapa] untuk mencaci pemerintah, menebar fitnah, meneruskan hoax, dan lain sebagainya, hingga lupa akan kewajiban untuk bermuhasabah, menginstropeksi diri dari khilaf dan salah.

Lupakah kita bahwa sebuah negeri yang aman, damai, dan tenteram, bukan hanya perjuangan kaum elit, eksekutif, yudikatif, dan beberapa ratus anggota dewan? Ini merupakan sebuah tanggung jawab kolektif sebagai manifestasi kebangsaan dan kenegaraan.

Perjuangan adalah sah dalam sebuah proses berdemokrasi, namun pengedepanan adab dan akhlak juga tak boleh dinafikan. Di zaman yang serba instan ini, arus informasi seakan tak terbendung, provokasi dan berita palsu kian tipis bedanya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Masyarakat diputar, diombang-ambingkan oleh segelintir kelompok yang bersahabat dengan kepentingan dan kekuasaan. Mata hati ditutup sekedar untuk melirik mata rantai perdagangan, hingga mata-mata sayu di pinggir-pinggir jalan tak lagi dilindungi oleh konstitusi.

Musim pancaroba dirasa kian sulit kala musim pemilu menggelayuti sebentar lagi. Tak ada [lagi] kewarasan, yang ada hanya ‘kegilaan’ dan caci maki politik yang sejatinya dan seharusnya tak boleh terjadi di bangsa yang majemuk ini. Cela, hujat, dan hina kian menjadi sebuah kemakluman dan kemafhuman bagi mereka yang berpeda cara pandang.

Sebagai contoh kecil, gerakan tagar ganti Presiden 2019. Hal ini merupakan bagian dari sebuah gerakan yang meresahkan, baik langsung maupun tidak, masyarakat secara sukarela maupun enggan, digiring menuju sebuah gelanggang yang bisa disebut liberalisme demokrasi, yang bebas, cenderung tanpa aturan, dan kalau pun ada, itu dibuat menjadi sesamar mungkin. Menciptakan paradigma untuk melakukan penghakiman pada salah satu pihak/lawan politiknya.

Ada yang menyebutnya sebagai gerakan kerakyatan, kebangkitan pemuda, penyadaran nalar, dan lain semacamnya sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Namun, yang musti kita pahami, kebebasan berekspresi dan berpendapat yang seperti ini cenderung merupakan kebebasan yang kebablasan. Instanisasi semacam ini rawan sekaligus riskan dijadikan santapan empuk para politisi yang memang memiliki misi dan berperan sebagai oposisi. Opini yang terorganisir dan terkonsolidasi dengan rapi kian membikin masyarakat gigit jari, tak jelas, kepada siapa kan menautkan hati di pilkada atau pilpres nanti, semua serba misteri.

Gerakan ini amat cermat membaca situasi, mereka bangun lebih pagi supaya dapat momentum untuk mempengaruhi. Kita yang melek teknologi tentu butuh strategi untuk menetralisir ini. Jangan sampai kondisi abu-abu ini digunakan juga oleh kelompok intoleransi untuk mengobok-obok kedamaian di Ibu Pertiwi yang kita cintai. Masyarakat harus beraliansi guna menghadapi perang proxy. Pengejawantahan sikap kesatria sejati musti terrealisasi guna mengatasi lilitan kapitalisme yang sarat akan histori. Sebagai generasi penerus negeri, hendaknya kita tak hanya berdiam diri, atau sekedar duduk mengamati, mulailah berdiri, kemudian berlari, ikut ambil bagian dalam membangun kesadaran dan menginisiasi, demi terwujudnya sebuah masyarakat dan bangsa yang madani serta berdikari. (tas/din)

Oleh : Kolong Kata 

Orange and Grey Speech Bubble Advice Baby Shower Card

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s