Sekolah atau Penjara?

Kini, banyak kita jumpai pesta pora pelajar usai lulus dari sekolah. Tak hanya SMA, bahkan ke tingkat yang lebih rendah pun tak sedikit yang merayakannya. Sepanjang jalan raya, dengan mencorat-coret seragam yang sebelumnya menjadi kebanggaan keluarga. Mengendarai motor sendiri, ada juga yang bersama-sama. Tak ayal, jalanan lengang mendadak macet luar biasa bak di Jakarta.

Mungkinkah ini sebuah pertanda bahwa kini sekolah bak penjara? Apakah hegemoni ini merupakan turning point dimana mereka semua seakan terbebas dari belenggu ketakutan akan beban kelulusan? Ataukah sekolah belum bisa jadi rumah kedua, yang mestinya menjadi tempat indah nan beretika? Apakah perlu reformasi menyontoh negara-negara Eropa? Ataukah perlu rekonstruksi nalar dari para peneliti dan cendikia?

Inikah potret kita? Di bulan pendidikan yang mestinya sarat akan pelajaran dan tata krama. Hal ini sebagai pengingat kita semua bahwa generasi muda masih perlu untuk ditata dan dibina. Revolusi mental harus direalisasi segera. Modernisme dan Hedonisme memang sulit tuk dicegah, namun pendidikan yang bisa mencetak generasi penuh ramah juga tak boleh jengah. Hingga kelak menjadi bagian dari masyarakat yang bisa bertenggang rasa, baik pada teman maupun tetangga. Tercermin sopan santun dan etika dalam kesehariannya, baik di rumah apalagi di jalan raya.

 


 

Sebenarnya bagaimana? apa yang perlu adik-adik lakukan?

Kami memilah-milah jawaban. Tidak ada yang begitu tepat juga begitu salah. Masyarakat Indonesia itu majemuk. Budayanya juga berbeda, termasuk budaya siswa di sekolah. Mungkin tulisan ini bisa sedikit mencerahkan. Sedikit sih.

Sepanjang jalan raya, dengan mencorat-coret seragam yang sebelumnya menjadi kebanggaan keluarga. Mengendarai motor sendiri, ada juga yang bersama-sama. Tak ayal, jalanan lengang mendadak macet luar biasa bak di Jakarta.

Kembali ke mereka semua, apakah hal-hal ini sudah dapat mereka lakukan secara santun. Mencoret seragam juga butuh adab Dik. Barangkali mencoret dan mengecat adalah sebuah cara mengabadikan kenangan, namun alangkah baiknya bila diimbangi dengan kegiatan positif. Semisal menyumbangkan seragam cadangan kalian ke panti asuhan atau membagikan nasi bungkus untuk anak jalanan. Sepatutnya jikalau bisa sedikit santai, hal itu mencerminkan kata Kak Roy Kiyoshi di acara yang sedang ngetrend itu, bahwa kalau ada karma buruk harus ditebus dengan karma baik.

Ehm apakah mencoret seragam dan konvoi adalah hal yang buruk? Bagiku sih tidak, bagimu mungkin juga. Tapi orang-orang tua yang mendengar knalpot dan klaksonmu mungkin iya. Kalau mereka ngedumel karena macet, karena berisik, karena risih dan puluhan “karena” yang lain. Duhai, perbuatan yang menggembirakan bagimu itu jadi kurang baik loh. Akhirnya jadi karma buruk deh. Ehe.

Mungkinkah ini sebuah pertanda bahwa kini sekolah bak penjara? Apakah hegemoni ini merupakan turning point dimana mereka semua seakan terbebas dari belenggu ketakutan akan beban kelulusan?

Apakah kalian merasa sekolah adalah penjara? tahu tidak, sekolah itu masa yang menyenangkan. Kalian tak perlu repot berpikir keras soal tuntutan hidup yang menyesakkan. Tidak perlu repot berpikir harus makan apa besok, berapa bonus dan tunjangan yang kalian dapat dari pekerjaan yang menjemukan atau harus berpikir soal karir dan jodoh. Kayak yang sering kalian temui di eksplore instagram– mirip cuitan dan curhatan makhluk hidup yang sedang berlari menuju usia kepala tiga.

Nikmatilah sekolah, belajar itu menyenangkan. Kalau tahu matematika, esok kita bisa sombong ke anak cucu kita, tentang rumus rumit yang kita tahu. Bahwa betapa rumus kecap abc dan trigonometri adalah sebuah game yang menantang. Kalau tahu biologi, esok kita bisa juga menyombongkan diri, bahwa betapa fotosintesis sebenarnya rumit atau siklus krab sungguh susah dihapalkan, namun semua itu bisa kita kuasai.

Rekonstruksi pemikiran pun tidak perlu dilakukan oleh orang lain, apalagi pemerintah. Cukuplah kamu sendiri, anak sekolah yang melakukan. Biar pemerintah urus kurikulum-mu saja, dan bagaimana cara agar UAS bisa berjalan efektif. Kehidupan sekolah mu yang jauh dari aura penjara, ya coba kamu ciptakan bagaimana. Biar indah ceritanya. Jangan sampai ada aura negatif, seperti narkoba, seks bebas atau dunia malam.

Modernisme dan Hedonisme memang sulit tuk dicegah, namun pendidikan yang bisa mencetak generasi penuh ramah juga tak boleh jengah. Hingga kelak menjadi bagian dari masyarakat yang bisa bertenggang rasa, baik pada teman maupun tetangga. Tercermin sopan santun dan etika dalam kesehariannya, baik di rumah apalagi di jalan raya.

Modern boleh tapi jangan diikuti dengan hedon. Modern boleh tapi jangan lupa adat dan adab. Mulailah mengidolakan tokoh-tokoh nasional yang hebat. Mulai dari Moh. Hatta, Bung Karno hingga Sri Mulyani atau Habibie. Jangan mengidolakan selebgram yang setiap hari foya-foya, berswafoto sambil pacaran! beneran deh gak ada gunanya.

Akhir kata dari kami, yang pernah melakukan hal serupa, yang merasa itu sedikit tidak berguna, adalah : “Oke, kalian boleh deh ke jalan raya, tapi tetap sopan ya.”

Salam dari generasi milenial, yang rindu akan masa sekolah. Kalau bisa mengulang waktu, tapi sayang aku tidak bisa. (tas/din)

 

WhatsApp Image 2018-05-04 at 15.03.26

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s