Mencintai Literasi

Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Momentum ini masih belum banyak terdengar oleh masyarakat umumnya. Dikutip dari Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud— angka melek aksara di Indonesia sudah mencapai 97,93%. Pun sejalan dengan itu, angka rata-rata produktivitas untuk mencetak buku di Indonesia telah mencapai angka yang fantastis yakni 18.000 buku/tahun. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan minat baca masyarakat yang tergolong masih rendah.

Angka yang disebutkan telah memperlihatkan bahwa Indonesia cukup banyak memiliki penulis yang mampu mencetak buku. Mirisnya, kini banyak penulis instan bermunculan. Menulis hoax di sosial media, cuitan di twitter atau bahkan curhatan soal perasaan. Kemudian itu nanti jadi buku. Sebenarnya sah-sah saja. Menulis itu tidak dilarang. Namun esensi menulis itu apa? Menurut kalian apa ya guys?

Kalau menurutku, menulis itu hasil dari membaca. Kalau kita selesai membaca akan ada banyak pikiran dan gagasan di otak yang berkembang menunggu untuk dikeluarkan. Daripada gila, digunakanlah tulisan sebagai media. Dengan menulis, rasanya beban yang ada di otak kita akan berkurang. Kalau boleh dibilang, menulis adalah kontemplasi dari kegiatan membaca itu sendiri.

Bagi sebagian orang membaca dan menulis adalah meditasi. Sebuah cara untuk melarikan diri dari hal-hal lain yang berat dan membosankan. Bagi sebagian yang lain, membaca dan menulis justru adalah hal-hal berat dan membosankan itu sendiri. Padahal sumber daya manusia yang berkualitas terlihat dari besarnya angka literasinya. Terbukti 10 besar negara dengan literasi yang mumpuni adalah negara-negara maju dan adidaya.

Bagaimana caranya untuk mencintai buku ya? Kami akan mencoba merangkum secara subjektif. Kalau kalian tau cara lain, bisa jadi itu lebih baik, tolong dong share dengan kami semua.

Yang pertama, seperti ketika mencintai manusia, kita tentu punya kriteria. Nah! begitu juga dengan buku, kita harus menentukan tipe buku yang menjadi ketertarikan kita. Dimulai dari genrenya apa, bisa Fiksi atau non fiksi atau topiknya apa, bisa pendidikan hingga humor atau guyonan.

Yang kedua, coba baca banyak buku dengan genre dan topik yang sama. Temukan penulis yang gaya bahasanya cocok denganmu.

Yang ketiga, semangat membacamu memang kadang naik turun tetapi semua akan sirna apabila rasa ingin tahu kita selalu ada dan berkembang .

Yang keempat, teruslah membaca meski itu berat. Niscaya kelak akan banyak dapat manfaat. Seperti manusia juga, bukankah cinta itu akan datang karena terbiasa 🙂

Yang terakhir, tanamkanlah semangat itu untuk anak-anak kecil di sekitar kita. Bisa anak, adik, sepupu atau tetangga. Ketika melihat anak-anak bersemangat membaca, niscaya kecintaan kita terhadap buku juga semakin membaik. Atau seringlah berkumpul dengan kutu buku. Dengarlah hal-hal magis dari mereka. Rasakan semangatnya. Dari situ bisa ditarik kesimpulan kan, bahwa “Semangat itu menular”  (Ini terbukti sih di lingkar pertemanan kami). Ehehe.

Buku adalah sebaik-sebaik teman duduk kita. Menjadi sumber pengetahuan dengan membacanya, membuka wawasan dan mengubah pandangan manusia, menjadi paham dan mengerti, dari yang sudah terjadi hingga memprediksi yang di depan nanti.

Memperingati hari buku bisa berarti menggiatkan kembali kegiatan baca buku dan juga produktifitas diri. Dengan membuat gerakan membaca dan literasi, mencari dan mengumpulkan informasi, meneliti dan menulis dengan gunakan metodologi, tidak bosan untuk mentelaah apa yang sudah dan akan terjadi. Untuk memahami segala ayat yang tersirat di langit dan di bumi, sebagai firman Tuhan yang Maha Tinggi. Seakan kembali mengingatkan diri ini, ‘Bacalah!’ seruNya pertama kali.

Problema yang melanda, generasi kini kurang sekali minat membaca, pada buku-buku ilmiah, seni, sastra, apalagi agama. Hingga dogma dan paradigma radikalis ekstrimis merajalela. Hal ini wajib menjadi perhatian para ulama dan cendikia, untuk bersama-sama mencari formula mendorong generasi muda, supaya mencintai buku dan gemar membaca, kapan saja dan dimana saja.

Hari buku seyogyanya mampu menjadi paksa untuk kembali menggiatkan budaya membaca. Mendorong para pelajar khusunya yang mahasiswa untuk menelurkan ide-ide cemerlangnya dengan segera. Berjuang bersama kolega untuk tidak membiarkan bangsa ini menjadi buta aksara. Dan bersinergi dengan para pemangku kuasa untuk meningkatkan minat baca bangsa, melebihi Amerika maupun Eropa.

Tau nggak sih, dampaknya kekurangan kesadaran akan literasi itu apa?

Perpecahan ..

Masyarakat akan dengan mudahnya diprovokasi oleh ucapan dan tindakan yang tak sepatutnya. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari aksi radikal, terorisme, proxy war, pertikaian antar golongan dan banyak hal lainnya.

Kalau kita tidak pernah membaca, maka kita akan bodoh. Kalau kita tidak menulis, maka pikiran kita meledak. Kalau kita tidak membaca dan menulis maka kita hancur.

Untuk memahami segala ayat yang tersirat di langit dan di bumi, sebagai firman Tuhan yang Maha Tinggi. Seakan kembali mengingatkan diri ini, ‘Bacalah!’ seruNya pertama kali.

Tuhan pun menyuruh kita untuk mencintai literasi, mengamalkannya dalam bentuk perbuatan lewat seruan. Bacalah! ya itu adalah perintah untuk membaca. Ayat ini merupakan ayat Al Qur’an yang turun pertama kali dan datang sebagai pertanda, bahwa manusia harus banyak membaca sebelum ia lebih jauh menjalani kehidupan di dunia. (tas/din)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

Blue World Book & Copyright Day Social Media Graphic

Advertisements

2 thoughts on “Mencintai Literasi

    • kolongkatakita says:

      Seperti yang tlah kami sebutkan pada kalimat kedua artikel ini, momentum ini masih belum banyak terdengar oleh masyarakat umumnya. Tapi setidaknya hal inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa rekan-rekan pegiat literasi mulai masif mengkampanyekan pentingnya membaca buku.

      Apapun jenis buku yang dibaca, termasuk novel seperti yang Kak Heni Trisna gemari, sarat akan pelajaran hidup yang bisa kita jadikan ‘teman’ dalam melangkah.

      Setiap buku selalu memiliki daya tariknya masing-masing 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s