Teologi Sakit Hati (Terorisme Part 2)

Beberapa hari belakangan, kita seolah disajikan tayangan-tayangan keji berupa obrolan sekaligus obralan, tentang ‘surga’ yang keindahannya bahkan belum pernah melintas di angan-angan. Semua tayangan tersebut dijajakkan dengan cara-cara yang tidak manusiawi, minim adab dan penuh pertentangan. Di berbagai tempat ibadah, majelis taklim, di kampus-kampus, di lapangan, bahkan di ruang-ruang publik lainnya, surga ditawarkan dengan hasutan yang penuh kebencian dan kemarahan. Mulai dengan berteriak heroik di atas mimbar, sampai berbisik-bisik di balik dinding liqa’ dan halaqah, serta kamar batin yang sunyi nan penuh kegelapan.

Berbeda dengan para ulama dahulu yang menawarkan surga dengan cara santun, simpatik, hikmah dan penuh akhlakul karimah. Memandang umat dan sesama manusia dengan tatapan mata penuh kasih, sehingga membuat wajah Islam menjadi sangat simpatik dan menarik. Pancaran keindahan surga bisa dirasakan siapa saja bahkan saat masih di dunia. Sebagaimana tercermin dalam kehidupan sosial yang damai, tenteram, bahagia, welas asih dan penuh dharma pada sesama.

Kini cara-cara demikian sudah hampir tiada. Tak perlu lama-lama mengaji pada para Kyai dan ulama. Tak perlu menunggu ajal menjemput, surga sudah bisa dan biasa dimonopoli hanya oleh golongannya, diperoleh dengan jalan pintas melakukan bom bunuh diri berkedok jihad di jalan Tuhan yang Maha Kuasa. Kavling surga seolah bisa dibeli dengan semangat membenci berbalut kalimat takbir nan suci. Semakin membenci dan menista kelompok yang berbeda, maka pintu surga akan semakin terbuka lebar dan terlihat nyata. Demi mendapat surga secara instan, mereka harus memandang manusia yang berbeda keyakinan dengan benci dan amukan.

Cara-cara inilah yang membuat manusia menjadi gelap mata dan lebih jauh menjadi gelap hati. Jangankan membenci, memfitnah dan caci maki, demi secepatnya mendapat surga, mereka tega mengorbankan nyawa siapa saja, bahkan nyawa keluarga dan darah dagingnya sendiri. Di sini, surga seolah hanya ditukar dengan nyawa dan sikap membenci pada kaum kafir, yang bagi mereka adalah kelompok lain yang berbeda dengan cara mereka berpikir. Amal shalih yang berarti berbuat baik pada sesama, beribadah pada Tuhan dengan menjaga perdamaian dan menciptakan tata kehidupan yang lebih madani tak lagi diprioritaskan dan dijunjung tinggi. Selain dianggap bisa merusak kemurnian Islam, sikap tersebut juga bisa dianggap mengurangi ghiroh dalam membela agama. Mungkin mereka lupa bahwa sejatinya kehidupan memang tercipta sedemikian rupa, sebagai bentuk rohman dan rohimNya. Dalam memulai proses kehidupan ini, sebelum beragama, setidaknya kita cukup menjadi manusia, untuk bisa menerima kesalahan orang lain dan memilih untuk merayakan perbedaan dalam bingkai keharmonisan berbangsa dan bernegara. Ketika ini dipahami sebagai sebuah resonansi untuk mewujudkan hubungan kemanusiaan yang sehat dan berbudi pekerti, maka cepat atau lambat, keadilan sosial akan dapat terwujud secara paripurna di setiap negeri bahkan hati setiap pribadi.

Kemudian, obral surga dengan cara menanamkan kebencian inilah yang kemudian kami sebut dengan “teologi sakit hati”, yaitu sebuah sikap ‘sakit hati’ berupa membenci dan menghakimi kelompok lain yang berbeda sebagai ekspresi spirit keagamaan dan ketuhanan, yang mana kesemuanya itu lahir dari sebuah ‘hati yang tersakiti’ oleh faham-faham intoleran. Teologi sakit hati inilah yang menyebabkan tumbuh suburnya teroris di setiap negeri, termasuk ibu pertiwi yang kita cintai. Ini terjadi karena ukuran keimanan seseorang hanya dilihat dari sejauh mana dia bisa membenci dan menghakimi kelompok lain yang dianggapnya berbeda. Semakin mereka membenci mereka yang berbeda, maka semakin dianggap kaffah pula Islamnya. Yang lebih parah adalah, munculnya keyakinan dimana semakin banyak mengorbankan nyawa, maka akan semakin dekat pula jiwa dan raganya terhadap surga. Di sini, seolah-olah surga harus dibeli dengan nyawa dan spirit kebencian terhadap sesama.

Virus teologi sakit hati ini sama bahayanya dengan narkoba, karena sama-sama memiliki daya rusak yang istimewa, baik secara individual hingga sosial-budaya. Manusia yang terpapar virus ini akan kehilangan akal sehat dan hati nurani. Mereka bisa menjadi mesin pembunuh yang tega melakukan apa saja demi memperoleh kenikmatan surga yang ‘hakiki’.

Sebagaimana narkoba, virus teologi sakit hati ini bisa menyerang siapa saja, dari kelas sosial mana saja. Terbukti, dari fakta pengeboman di Surabaya, tidak hanya kelas bawah dengan ekonomi lemah, tetapi para pelaku teror juga berasal dari kelas sosial atas, tak lagi sekedar menengah, dengan derajat pendidikan yang tidak pula rendah, bahkan secara ekonomi juga terhitung cukup mewah. Setinggi apapun pendidikan, secerdas apapun akal pikiran, jika sudah terkena virus ini, maka semua akan lumpuh dan hancur berantakan. Menjadi makhluk yang tuna rasa dan nir-kemanusiaan. Jika narkoba lebih banyak menyerang kaum muda kekinian, virus ini justru mudah masuk di kalangan para pecandu ketuhanan, orang-orang kantoran hingga para pegawai pemerintahan.

Virus ini jelas lebih berbahaya daripada narkoba, karena penyebarannya yang terhitung lebih masif dan melibatkan banyak lini. Kita bandingkan saja, ketika bandar narkoba menyebarkan ‘komoditinya’ secara sembunyi-sembunyi, maka penyebaran virus teologi sakit hati ini dilakukan secara terang-terangan, terbuka dan agresif, walau sesekali berhati-hati dan membentuk sebuah eksklusifitas diri. Hal ini terjadi karena ada topeng agama yang seakan selalu suci, sehingga segala perlawanan, pelarangan, dan bentuk kontra-produktif lainnya akan dengan mudah dicap sebagai penentang agama dan kriminalisasi. Inilah kiranya yang membuat aparat menjadi gamang untuk melakukan penindakan, masyarakat awam pun menjadi jengah dalam menghadapi ulah para agen dan  ‘distributor’ teologi sakit hati yang semakin kemari semakin meresahkan.

Melihat dahsyat dan semakin maraknyanya daya rusak teologi sakit hati ini, maka perlu ada kesadaran dari semua pihak dan seluruh lini untuk menganggap serius virus ini sebagai sebuah musuh bersama dan bertindak secara tegas untuk memberantasnya. Jika tidak disikapi demikian, bukan tidak mungkin kita sudah berada di kolong antrian, menunggu giliran menjadi korban. (tas)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak di kolom komentar? Terima kasih

 

WhatsApp Image 2018-05-21 at 11.13.11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s