Hari untuk Kembali

Rupa-rupanya kita telah dekat dengan Hari Raya nan Fitri. Banyak orang yang mulai berbelanja aneka kebutuhan di sana dan sini, di toko-toko yang biasa hingga di mall-mall yang bertingkat tinggi, membeli pakaian-pakaian yang mereka minati. Baju, sarung, celana, bahkan jas, dan banyak yang lain lagi, bergembira sebagai manifestasi perayaan hari raya usai puasa nanti.

Semuanya bersyukur atas pemberian Yang Maha Esa. Jiwa, badan serta segala anggotanya terlihat serasi berpadu-padan semua. Biar kulit tidak sama, hitam-putih, kuning pun tak apa-apa, manis dan tampan semua kelihatan cocok tiada tara. Kita manusia sekaligus hamba tinggal menikmati yang sudah ada dari pemberianNya, tinggal berterimakasih atas segala pemberianNya tanpa susah meminta-minta.

Pakaian dan Tuhan, relasi tajalli yang tlah menjadi ketentuan, pun ketetapan. Manifestasi inti dari Yang Maha Tersimpan, mewujud dalam jiwa dan badan yang penuh keindahan, sebagai Adam alaihissalam yang pertama kali diciptakan, menurun kepada kita sebagai makluk yang penuh kesempurnaan, insan kamil penuh kerinduan akan perjumpaan, dan usaha dalam meniru sifat-sifat kenabian.

Pakaian menjadi tajalli. Rasa syukur kepada Ilahi Rabbi, dengan penuh suka kita membeli, penutup jiwa dan badan dengan harga yang bervariasi. Sungguh pakaian bisa mendekatkan manusia pada Dzat Yang Murni, tergantung pada bagaimana kita mempersepsi, dengan hati yang suci ataukah pikiran picik yang penuh benci, semua bisa menjadi sangat berarti atau malah hina dina menghancurkan diri.

Sebulan lamanya, ibadah puasa kita lakukan bersama. Menahan lapar dan dahaga, segala yang membatalkan juga kita jaga. Surut dari ghibah atau membincang lain manusia, tarawih dan tadarus kita istiqomahi tiap malamnya, dengan penuh harap agar segalanya mendapat pahala, pun semua dosa bisa terampuni sebagai bekal bertemu denganNya kelak di surga.

Implikasi puasa yang sesungguhnya adalah sabar dan empati. Punya rasa peduli kepada seluruh sanak famili, juga pada siapa saja yang merasa lapar berhari-hari, kepada mereka yang tak punya pendapatan jelas kecuali disantuni. Dengan tumbuhkan rasa iba dan juga peduli, kita bangun solidaritas dengan saling mencintai. Empati harus terimplikasi dan direalisasi lewat zakat fitri, sebagai pondasi membangun masyarakat yang madani, yang saling peduli sesama insani.

Idul Fitri. Dapat dimaknai sebagai hari untuk kembali, kembali kepada fitrah insani, kembali menjadi pribadi yang suci, bebas dari dosa seperti bayi, terlahir kembali. Ramadhan sebagai kawah candradimuka yang menempa diri berhari-hari, semoga setelah ini menjadikan hidup lebih berhati-hati, menghindarkan kita dari sikap membully dan saling menyakiti. Menjadi manusia utuh yang memelihara jiwa serta hati.
Lebaran menjadi pembebasan atas segala kendala kemanusiaan. Egoisme yang selama ini menjadi ganjalan, hancur perlahan dengan cahaya kelaparan, menuju insan yang penuh ketakwaan, tak hanya menjadi daging yang dibalut pakaian penuh kesombongan. Bersama berkah ramadhan yang kian di ujung jalan, hendaknya kita senantiasa bisa mengundang kebahagiaan, dibarengi dengan rasa syukur atas segala pemberian, hingga siapapun ingin berdekatan.

Semoga puasa kita bisa menjadi pondasi utama guna membangun peradaban manusia sedunia, menjaga perdamaian yang sentausa, melepaskan egoisme dan segala angkara murka, menjadi orang yang ‘lebar’ dari segala dosa, gemar berdharma serta berderma, kepada sesama dan setiap makhlukNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s