Pulang Kampung nan Adi Luhung

Bermula dari sebuah renungan di bulan nan suci, bahwa kita selama ramadhan ini diakui atau tidak, senantiasa masih disibukkan dengan berbagai hal remeh seperti halnya olah jari di sosmed hingga terlambat menyadari bahwa kita masih miskin dzikir dan di waktu yang bersamaan ramadhan sebentar lagi akan pergi, parahnya adalah tak ada jaminan sedikitpun bahwa kita akan bisa dipertemukan dengannya kembali.

Hanya tinggal beberapa hari sampai ramadhan benar-benar pergi. Tanda-tanda ini sudah jamak dipahami sejak masjid-masjid menjadi lebih sepi, pergeseran diri menuju pusat-pusat perbelanjaan demi baju, celana, HP dan berbagai barang baru yang mesti terbeli. Sungguh, lagi-lagi tamparan keras tak hanya ke pipi namun sampai ke dalam hati sanubari. Hanya doa kepada Ilahi Robbi yang senantiasa teratapi, semoga kita tidak digolongkan menjadi golongan mereka yang merugi.

Marilah kita jaga yang tersisa ini, sebelum syawal nan suci datang menyapa diri. Jangan sampai nikmat sehat dan waktu luang yang kini kita miliki malah menjadi bumerang yang bisa menjadikan diri kita menjadi manusia yang lalai dan merugi seperti halnya sabda Nabi. Mari perlahan kita tanggalkan keremeh-temehan dunia dengan bergeser ke sesuatu yang lebih bermakna bagi kehidupan dan kemanusiaan. Mari kita jaga kondusifitas bulan ini tanpa ujaran kebencian, baik di medsos, terlebih di jalanan. Mari kita aplikasikan semangat solidaritas, toleransi, dan kesabaran sebagaimana yang diajarkan oleh bulan suci ramadhan.

Setelah ini, rutinitas mudik pun dimulai. Mudik merupakan sebuah fenomena yang unik sekali. Semua orang berbondong-bondong kembali ke desa dan kampung halaman sendiri, berbekal kegembiraan sejati untuk bertemu dengan teman lama maupun sanak famili. Semuanya bercengkerama dan berkumpul tak ada yang menyendiri, menemukan makna hakiki dari sebuah kata saudara dan sahabat yang sangat berarti, mengingat kenangan dan kerinduan masa kecil yang lama sekali tak terobati. Semestinya, mudik tak sekedar perayaan diri, bangga-banggaan atau bahkan pamer sana-sini. Lebih jauh, mudik merupakan hakikat dari sebuah kehidupan yang musti dimaknai tinggi, bahwa semua hamba kan kembali ke pangkuan Ilahi.

Dengan berbagai moda transportasi yang sudah ada, bisa juga dengan naik motor dan mobil bersama keluarga, melintasi daerah yang berbeda-beda, membawa bekal untuk orang tua dan juga mertua, tak lupa cemilan dan kue-kue yang istimewa. Semua demi oleh-oleh yang berarti untuk para keluarga nan jauh di sana, bahkan tak jarang hingga terkenang selalu sepanjang masa.

Mudik adalah perjuangan, bisa juga disebut sebagai sebuah hijrah kekinian, sebuah perjalanan penuh resiko nan rawan kecelakaan. Bahkan, tak sedikit nyawa yang melayang menjadi korban, demi tradisi berkumpul bersama handai taulan penuh kebahagiaan.

Mudik menjadi sangat berarti karena membawa memori masa kecil kala masih sendiri dan belum bisa mandiri. Mengorek kembali jati diri, merajut kesetiaan kepada sanak famili, membangun persaudaraan dengan sepenuh hati, saling kunjung dengan semangat menyemai damai dan memupuk silaturahmi. Lebih jauh dari semua ini, arti penting mudik bahkan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, mereka yang sukses di perantauan menjadi termotifasi untuk berbagi dan memberi, mencampakkan ketimpangan sosial di hari yang penuh fitri, tak hanya ‘money’, tapi juga segala yang berarti dalam kehidupan ini.

Mudik merupakan sebuah tradisi adi luhung warisan bangsa, penuh arti dan makna. Hakikat yang tak boleh dilupa, di balik semua perilaku kita manusia Indonesia, semuanya bisa diniati sebagai pelaksanaan ajaran agama. Sebagai penyambung relasi orang kota dan orang desa, silaturahmi yang mulia, dan keseteraan hidup yang saling membutuhkan sebagai satu keluarga, yang bisa mengakrabkan antar kita sesama hamba yang Esa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s