Agama dalam Perspektif Kekinian

Iman pada dasarnya adalah tersembunyi, banyak yang menyebut bahwa ia terletak jauh di relung hati, bersifat privat, dan sangat pribadi. Tapi, di saat yang sama, iman mengamanahi kita untuk juga ikut mengajak pribadi lain guna berdharma dalam proses hidup sekaligus beragama, agaknya hal inilah yang semestinya mendasari setiap agama untuk menjadi sebuah gerakan misionaris dengan ‘ghiroh’ dan pendekatan yang berbeda-beda. Kini, dan makin kemari, disadari atau tidak, agama kian tergiring untuk mengisi dan selalu ingin (di)tampil(kan) di ruang publik.

Dengan menggunakan pendekatan normatif-preskriptif, kini kita bisa melihat, bahkan lebih jauh mengutarakan hipotesa bahwa; semakin rajin seseorang mengikuti berbagai kegiatan keagamaan (liqo’, halaqoh, dsb), (mestinya) semakin membuat sholeh seseorang, baik itu secara sosial, menjadi insan yang terpuji dan sebagai agen penebar kasih Tuhan, buah dari iman dan ilmunya. Pun sholeh secara ritual dengan segala bentuk ketaatan yang jelas terpampang melalui ibadah-ibadah ‘dhohir’ keseharian. Nah, yang menarik dan cenderung bertolak belakang dengan semua pernyataan sebelumnya adalah, sebagian da’i zaman now cenderung tak menekankan hal itu. Bagi mereka, fungsi ritual yang utama itu hanya ada dua: untuk mengejar pahala sebagai tabungan akhirat dan penghapus dosa. Sesempit itu.

Pendekatan keberagamaan yang semacam ini bisa membuat moral sosial menjadi lembek, lebih jauh adalah melunturkan gairah agama sebagai sumber dan pilar dari sebuah peradaban.Ritual hanya dimaknai menjadi semacam institusi penebusan dosa. Hanya berdampak dan melingkupi pribadi tanpa menengok tetangga yang juga terkadang butuh untuk disuapi. Parahnya, dan bahkan menjadi sebuah hegemoni yang juga cukup fenomenal di negeri ini, kini, jamak dijumpai remaja, lengkap dengan perabot sosial media mereka,berbondong-bondong mengisi dunia maya dan lini masa dengan narasi dan tata caraberagama. Sebagian kelompok menjalani agama mereka dengan fun, santai, dan penuh canda tawa, sebagian yang lain lebih senang dengan narasi keagamaan mereka yang bernada keras, ofensif, dan penuh kosakata ancaman, seperti; bid’ah, sesat, dan bahkan kafir.

Pendekatan agama yang kaku, ideologis-idealis, dan bahkan hiper-tekstualis, telah menggerus dan perlahan menggerogoti ekspresi keberagamaan dan toleransi di Nusantara yang dulu dikenal penuh keramahtamahan dan rendah hati.Padahal beberapa agama dan/atau aliran kepercayaan yang tumbuh di Nusantara adalah ajaran yang penuhkedamaian dan relevan dengan berbagai keadaan masyarakat yang majemuk.Bahkantelah terjadi akulturasi dengan banyak kebudayaan setempat, sehingga berbagai tradisi dan simbol lokal menjadi ‘diagamakan’. Sebut saja; wayang, bedug, dan sejumlah kegiatan seni-budaya di berbagai daerah, sehingga tak heran jika muncul berbagai ekspresi budaya-agama dengan warna Nusantara yang kental.

Dalam hal berpakaian misalnya, jika kita coba dan mau menengok berbagai literatur yang ada, istri da’i sekalipun,dulu hampir tak ada yang mengenakan tutup kepala (kerudung) dengan rapat seperti sekarang.Para da’i pun tidak canggung memakai pakaian ala Nusantara.Jadi, baru belakangan ini saja terdapat fenomena yang mencolok dalam kegiatan beragama, diakui atau tidak.

Fenomena ini setidaknya dipengaruhi oleh; pertama, pengaruh budaya Arab, atau jika boleh disebut Arabisasi, yang kian berkembang, termasuk menguatnya paham-paham keagamaan yang tekstual-skripturalis. Kedua, kekerasan yang marak terjadi di seluruh dunia, khususnya di Timur Tengah, atau yang santer disebut ‘Arab Spring’, berimbas ke Indonesia dengan munculnya kelompok-kelompok (radikal) yang mengusung jargon jihad, khilafah, takfiri, dan syahid dengan bom bunuh dirinya. Ketiga, politisasi dan kapitalisasi emosi keberagamaan dalam kontestasi dan/atau konstelasi politik.Keempat, maraknya dakwah agama di sosial media dan munculnya para mubalig baru yang tiba-tiba populer seolah selebritas keagamaan.

Hal-hal tersebut di atas ditunjang oleh gairah beragama bocah-bocah perkotaan (generasi hijrah) yang sedang penasaran untuk menemukan identitas diri sekaligus pegangan hidup ketika suasana nasional dan global yang dianggap kian tidak memberikan suasana aman dan nyaman. Maraknya ceramah agama di ruang publik dan lini masa sosial media menambah gegap gempitanya narasi keagamaan dan membuat generasi zaman now malas membaca buku atau bahkan bertalaqqi dengan da’i yang sejati, tak heran jika kini muncul istilah seperti ‘pemuda-pemudi instan’. Tak ingatkah mereka bahwa mie instan saja perlu proses dan progres untuk kemudian bisa dinikmati dengan hakiki?

Sebagian dari generasi instan ini cenderung eksklusif, tak lagi ramah terhadap perbedaan. Tak lagi arif dalam menatap keberagaman.Apalagi tahun ini dan setahun mendatang adalah tahun-tahun rawan, tahun dimana atmosfer ‘beda pilihan’ kian membumbung tinggi dibalik bilik suara. Ketika menyangkut aspirasi politik, keagamaan yang beragam–yang mestinya menjadi sumber rahmat dan kebahagiaan bagi semua makhluk, tak hanya satu atau agama tertentu–justru dilumuri dengan benci, emosi, hingga caci maki. Ini merupakan sikap keberagamaan yang kurang percaya diri, picik, dan cenderung insecure,yang mungkin muncul dari sebuah perasaan kalah dalam panggung persaingan global serta wawasan keagamaan yang sempit.

Memang, tidak semua kemajuan dalam teknologi berbanding terbalik dengan akhlak dan adab penggunanya, namun, bijak dalam penggunaan kemajuan teknologi menjadi kunci yang musti selalu diperhatikan. Untuk isu-isu tertentu yang sangat akademis, atau bahkan historis-empiris, pendeknya sangat segmented, sulit jika harus disampaikan begitu saja di ruang publik (melalui sosial media) tanpa harus bertatap muka, malah bisa menjadikan antipati bagi masyarakat yang melihat. Namun, hal-hal semacam ini perlahan, mau tidak mau, perlu untuk segera disosialisasikan kepada masyarakat kita, khususnya pemuda-pemudi yang memiliki ‘ghiroh’ keagamaan yang (masih) menggebu-gebu, agar tertantang secara ilmiah dan tidak menjadi generasi yang ‘kagetan’, kemudian ‘nyinyir’ terhadap orang yang berbeda pandangan.

Dari uraian di atas,terkesan kuat bahwa terdapat lapisan sosial yang menginginkan kajian agama yang lebih kritis-dialogis sekaligus terbuka.Tidak monolog.Tanpa jeda waktu untuk menyela apalagi mendebat. Di sini faktor kualitas da’i menjadi sangat penting. Agaknya hal inilah yang mungkin menjadi salah satu faktor bagi Kemenag untuk merilis beberapa nama da’i yang bisa dijadikan rujukan dan rekomendasi oleh masyarakat.

Kemajuan zaman dan tentu teknologi yang kini kian merambah di setiap ujung desa di Nusantara, diharapkan mampu menghubungkan kedua belah pihak,masyarakat yang haus akan sajian religi,dengan khazanah keagamaan yang amat kaya, mendalam, dan terbuka, bukan sekadar sajian populer yang biasanya hanya berupa copy-paste lewat WhatsApp yang skripturalistik.

Saat ini, informasi berupa ilmu pengetahuan, termasuk studi agama, tidak hanya dibatasi di dalam ruang kelas.Bahkan, tak sedikit narasumber yang berbobot lebih mudah dijumpai di sosial media. Kita bisa dengan bebas berinteraksi dengan mereka, tanpa ada tedeng aling-aling atau embel-embel protokoler yang rumit. Hal ini menjadi warning bagi setiap institusi pendidikan untuk mengubah diri menjadi lebih fleksibel dan mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi perkembangan dan ledakan informasi keilmuan di luar gedung sekolah. Perlu muhasabah bagi kita semua, semoga para pembelajar khususnya mahasiswa tak sekedar mengejar titel-titel kesarjanaan, dan mengabaikan ilmu apalagi adab, yang notabene menjadikan sebab diri mereka mulia. (tas)

 

Green Light Rays Church Business Card (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s