Beasiswa LPDP LN dari Kacamata yang Sangat Subjektif

Seperti biasa, seperti kebanyakan pemuda pemudi generasi milenial, tawaran mengenai sesuatu yang baik dan gratis akan selalu menjadi iming-iming  yang sangat menggiurkan. Dibumbui dengan kemewahan― seperti bersekolah di luar negeri dan melihat salju― yang tak semua orang bisa mendapatkannya, akan selalu menjadi fenomena yang prestisius.

Salah satu beasiswa yang sedang banyak diperbincangkan adalah LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Beasiswa yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia, lebih tepatnya oleh kementerian keuangan. Dikhususkan untuk anak Indonesia yang berkemampuan mumpuni di atas rata-rata (tentu saja indikatornya adalah penilaian mereka para reviewer beasiswa).

Sebut saja namanya Usagi (karena penulis suka Sailor Moon). Usagi ini sudah bertahun-tahun mencoba berbagai beasiswa namun waktunya tidak pernah tepat (istilah keren dalam menyebut kegagalan). Meski gagal Usagi tidak pernah menyerah. Kalau ditanya untuk apa ia mendaftar LPDP dan beasiswa international lainnya, jawabannya singkat. Ia bermimpi untuk pergi ke Luar Negeri. Baginya dunia itu seperti dunia lain yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Maklum, Usagi adalah gadis desa, anak buruh tani. Namun, semangatnya sekuat baja.

Lain dengan Usagi, sebut saja dia Kika. Kika anak orang biasa, anak pegawai BUMN. Keluarganya sejahtera, tapi tidak cukup kaya untuk membiayai Kika sekolah hingga meraih gelar Master (baik itu di dalam negeri atau di luar negeri). Kika kemudian memilih jadi pejuang beasiswa luar negeri karena ingin melakukan penelitian yang baginya sangat luar biasa. Ia sangat ingin menjadi Dosen yang berkualitas, dengan penelitian yang juga berkualitas. Katanya― ia ingin belajar meneliti dari negara yang sudah sangat produktif melahirkan para peneliti hebat. Cita-citanya mulia, setelah pulang ia ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk peneliti dan akademisi yang hebat di masa depan, lewat anak-anak didiknya.

Dari kedua subjek yang telah diceritakan, apakah LPDP memberikan kesempatan yang sama? Siapakah yang lebih berhak mendapatkan beasiswa tersebut?

  1. Ada orang yang berkata Usagi lebih patut untuk mendapatkan beasiswa LPDP. Karena keluarganya yang kurang mampu.
  2. Ada yang berkata Kika karena alasan Kika yang kuat untuk melakukan penelitian, dibanding dengan alasan Usagi.
  3. Ada orang yang berkata Usagi dan Kika sama-sama patut memiliki kesempatan yang sama dan setara.

Dari kacamata yang sangat subjektif ini, penulis memilih untuk memilih nomer 3. Sedihnya, LPDP dengan peraturan terbarunya, memberikan ruang untuk publik berasumsi bahwa LPDP lebih cenderung memilih option nomer 1. Bukan berarti penulis mencoba melakukan generalisasi bahwa-setiap-anak-dengan-latar-belakang-seperti-Usagi juga memiliki alasan yang sama seperti Usagi, tidak sama sekali! Penulis sangat percaya bahwa ada banyak tipe manusia, Usagi hanya contoh.

Untuk informasi, LPDP membagi beasiswa menjadi 3 jenis.

  1. Afirmasi: untuk anak-anak dengan tingkat ekonomi yang rendah, anak peraih prestasi (minimal nasional) dalam bidang seni dan olahraga dan anak-anak yang tinggal di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Usagi tentu lebih memilih jalur ini.
  2. Co Funding: untuk anak-anak dengan keluarga yang sangat sejahtera kaya dan mampu melakukan pembiayaan beasiswa. Biaya kuliah separuh akan ditanggung LPDP. Contohnya, bukan Usagi, bukan Kika.
  3. Reguler : untuk anak-anak ekonomi pertengahan (anak dengan ekonomi standard) atau di atas pertengahan (yang tidak mau mengikuti co funding) atau siapapun. Bisa dikatakan jalur ini adalah yang paling sulit, yang paling umum dan yang memiliki saingan berjubel. Anak seperti Kika biasanya memilih jalur beasiswa ini.

 

Pembagian seperti ini terlihat tepat. Tapi bagi penulis, sepertinya tidak. Yang terjadi sekarang (saat ini, detik ini, ketika kita membuka laman LPDP) adalah adanya perbedaan daftar perguruan tinggi negeri yang bisa dipilih untuk pelamar jalur afirmasi dan regular. Pilihan perguruan tinggi beasiswa afirmasi lebih luas dan banyak, sementara reguler banyak dibatasi. Reguler memiliki 65 pilihan universitas dan afirmasi 275 pilihan universitas. Kenapa begitu berbeda? Apa alasannya?

Ambil kasus saat Kika berhasil diterima di perguruan tinggi namun universitas tersebut tidak ada di list LPDP reguler. Tentu saja, ia tidak akan bisa mendapatkan beasiswa. Meskipun, universitas tersebut juga merupakan universitas yang bagus dan mumpuni track recordnya.

Bagi penulis, pendidikan harusnya memberikan kesempatan yang sama, bukankah tidak ada kasta di dalamnya. Perlu untuk memandang sesuatu tidak secara ekstrim. “Bukan Kaya Raya atau Sangat Miskin” lantas apabila klasifikasi hanya ada dua begitu, bagaimana kita mengklasifikasi orang seperti Kika?

Seorang yang biasa saja, tidak kaya tidak miskin. Tidak mampu berkuliah di dalam negeri dengan biaya sendiri (kecuali dia bekerja bagai quda) apalagi membiayai secara paruh uang pendidikan di luar negeri dengan beasiswa co funding. Bagaimana dengan anak-anak yang sebenarnya mampu bersaing tapi ia memiliki nasib seperti Kika? kenapa kesempatannya tidak sama dengan yang lainnya? Kenapa ruang yang diberikan terbatas?

Dimanakah tempat mereka?

(din)

lpdp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s