Bahagia, Orang yang Suram dan Kesehatan

Akhir-akhir ini dunia disibukkan oleh berbagai macam huru hara. Saya rasa bukan dunia saja yang begitu, bahkan dalam tingkatan individu sekalipun, seseorang juga mampu mengalami banyak huru hara dalam benak dan pemikirannya. Contoh, soal standar hidup yang semakin tinggi. Para makhluk hidup ini (mungkin saya juga termasuk di dalamnya) berbondong-bondong menyesuaikan hidupnya agar setara dengan standar yang kebanyakan orang ciptakan. Ah, sungguh rumit~

Sementara mereka sibuk begitu, sebenarnya kalau mau merenungi dalam-dalam, hidup ini hanya persoalan mencari kebahagiaan. Tentu saja, tingkat kebahagiaan tiap orang sangat berbeda. Kalau kita bisa bahagia, mungkin kita baru bisa merasakan hidup.

Kalau kebahagiaannya kayak standar-standar selebgram, artis, jutawan atau pewaris kerajaan gimana? Ya ndakpapa toh, yang penting kamu berbahagia, pun juga saat kamu berproses menjadi selebgram-artis-jutawan-pewaris tadi, kamu menikmati prosesmu dengan bahagia.

Jadi cukup ya, semua sepakat, apapun yang terjadi, makhluk hidup ciptaan Tuhan─ macam kita ini, harus Bahagia.

Happiness is the meaning and the purpose of life, the whole aim and end of human existence. –Aristoteles

Pak Aristoteles pun mengiyakan statement tersebut. Oke lanjut.

Menurut Jurnal Personality and Social Psychology, tahun 2014, peneliti Gillian dan Elizabeth mengungkapkan bahwa kebahagiaan memiliki koneksi yang erat dengan ikatan antar manusia. Semisal seberapa kuat ikatan sosial kita dengan orang lain, dan berapa banyaknya orang yang terikat dengan kita secara paripurna dalam kehidupan sehari-hari akan sangat mempengaruhi tingkat kebahagiaan.

Semisal, seseorang bernama Tono. Tono adalah pekerja kantoran yang introvert. Ia mengaku, ia bahagia hidup sendiri berpuluh-puluh tahun, hobinya membaca dan temannya hanya buku. Ia sering tidak masuk karena sakit. Bisa dipastikan ia dengan yakin berkata bahagia, namun kenyataannya mungkin tidak.

Mari kita telisik lebih dalam guys.

Jikalau kita sering berselancar di internet dan membaca jurnal kesehatan, banyak penelitian mengungkapkan bahwa kebahagiaan merupakan kunci dari hidup sehat. Bahagia akan meningkatkan sistem imun tubuh kita, pun juga berpikiran positif akan menurunkan resiko penyakit, kata artikel di website kesehatan Universitas Harvard.

Oke kalau begitu, apakah Tono adalah manusia yang berbahagia. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Stigma “Tono Bahagia” sepertinya lebih mudah dipercaya karena Tono sendiri yang memproklamirkan, namun menurut kacamata peneliti, Tono adalah Homo Sapien yang tidak bahagia.

Tanpa adanya rekam medis yang serius, Tono sering sakit, pun interaksi sosialnya tidak begitu bagus, Tono juga anak rantau. Bisa dipastikan ia kekurangan “interaksi sosial yang kuat” (strong bonding). Menurut jurnal, strong bonding seseorang adalah keluarga dan sahabat dekat. Kalau kita sering merasa bahagia dan dekat dengan strong bonding kita, peniliti bilang sih kita jadi nggak gampang sakit. Jadi apakah Tono yang sering sakit itu kurang interaksi dengan keluarga dan sahabat dekatnya? Jawabannya hanya Tono dan Tuhan yang tahu.

Meskipun begitu, Tono hanyalah gambaran fiksi dari apa yang penulis ingin sampaikan. Intinya, kebahagiaan itu sangat dekat kaitannya dengan kesehatan, dan cara meraih kebahagiaan adalah dengan melakukan interaksi sosial yang baik dan berkualitas.

Terus bagaimana dengan orang introvert yang susah berinteraksi dengan lingkungannya? Come on guys, selalu ada cara untuk manusia yang mau mencoba. Kamu kan masih punya orang tua dan saudara (komponen strong bonding-mu), sering-seringlah menghubungi mereka, sekadar berkeluh kesah atau membicarakan skor sepak bola kan bisa. Kamu juga punya sahabat kan? meskipun tak banyak. Maka bangunlah kualitas interaksi yang baik juga dengan mereka.

Atau kalau mau lebih ekstrim, bertemanlah dengan orang ekstrovert. Bukalah dirimu, sebarkan kebaikan, empati dan sifat positifmu. Tak perlu juga kamu ikutan ramai dan dinamis. Mereka pasti akan lebih berinisiatif untuk duluan membangun interaksi denganmu, wahai kaum introvert.

Kok jadi bahas kepribadian?

Ya yang jelas intinya, kebahagiaan itu juga tercipta dari hubungan antar manusia atau dari kehidupan sosialmu. Kebahagiaanmu yang tinggi akan meningkatkan kesehatanmu. Kalau mau sehat ya jangan negatif dan suram-suram amat jadi orang.

Apalagi sampai menebar ujaran kebencian di media massa, merendahkan orang lain, jadi julid, gampang nge-judge orang bahkan mengkafir-kafirkan orang lain. Duh nanti interaksi sosialmu dipenuhi muatan negatif, banyak yang benci, terus kamu nggak bahagia, terus kamu sakit-sakitan deh! *eh

(din)

Reference: https://www.healthline.com, https://www.health.harvard.edu/, https://www.psychologytoday.com/

Bahagia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s