Radikalisasi Berkedok Kaderisasi

Tema yang akan kami kemukakan kali ini agaknya sedikit ‘ekstrim’ dan mungkin bisa disebut ‘radikal’. Sebab kami akan mencoba untuk menyampaikan sedikit pandangan yang mungkin terlihat subyektif walau sejujurnya kami tulus dan amat obyektif dalam setiap penyajian fakta yang ada.

——–

Pada postingan sebelumnya yang bertajuk ‘Agama dalam Perspektif Kekinian’ dalam laman blog (kolongkatakita.wordpress.com) sudah sempat kami singgung beberapa faktor yang menyebabkan agama kian tergiring untuk mengisi dan selalu ingin (di)tampil(kan) di ruang publik. Nah, pada postingan kali ini, kami akan mencoba menganalisa sedikit fakta yang mungkin sudah jamak diketahui oleh beberapa aktivis rohis (kerohanian islam), baik yang ada di sekolah maupun di wilayah kampus/perguruan tinggi.

Dalam lubuk hati paling dalam, kami amat menyesalkan, bahwa pada feed kali ini, kami mungkin akan khusus membahas radikalisasi yang terkait dengan Islam, karena notabene, agama satu inilah yang amat potensial bagi para radikalis-jihadis untuk dimanfaatkan sebagai pemecah belah sebuah bangsa demi tujuan-tujuan tertentu, baik politik, ekonomi, maupun banyak tujuan (picik) lainnya.

Walau isu islam akan amat kental dibahas, bukan berarti ini merupakan manifestasi ajaran islam yang sesungguhnya. Bukan rahasia umum, dan bahkan mungkin seluruh pegiat kedamaian akan sepakat bahwa tak ada satupun agama (termasuk islam) yang mengajarkan kekerasan maupun kekasaran sebagai solusi dari sebuah permasalahan khususnya perbedaan. Kekerasan yang dipahami kaum-kaum hiper-tekstualis yang kemudian pada prosesnya akan menjadi agen-agen radikalis-jihadis adalah pemahaman yang sempit dan kaku, sebuah pemahaman yang kini amat sangat meresahkan masyarakat dunia lewat adab yang buruk dan nada keras yang cenderung ofensif terhadap mereka yang tidak sepemahaman.

Kembali pada topik utama, satu masalah besar muncul, dan mungkin, atau setidaknya pernah menghinggapi kita yang sempat mempertanyakan bagaimana gerakan-gerakan radikalis ini bisa muncul, bahkan cenderung terstruktur, masif, dan mengakar. Satu di antara sekian banyak faktor atau jawaban yang kini bisa diutarakan adalah brain wash berkedok ‘kaderisasi’ melalui institusi pendidikan.

Paham-paham keagamaan yang tekstual-skripturalis ini pada awalnya memanfaatkan ruang demokrasi yang memfasilitasi setiap orang untuk bisa atau bebas berpendapat di ruang publik. Mirisnya, sebagian dari mereka justu men-toghut-kan Pancasila dan mengutuk demokrasi sebagai mata rantai yang tak bisa dipisahkan dari bumi Nusantara. Melalui ruang bebas yang terjamin oleh konstitusi ini, perlahan mereka mengebiri semangat kebangsaan dan penghormatan terhadap keberagaman.

Sebagai turunan sekaligus konsekuensi, mereka seakan mendapat kebebasan untuk bertindak layaknya Tuhan, mengadili keimanan setiap muslim, khususnya yang tak sepemahaman dengan mereka. Mulai dari bid’ah, munafik, hingga kafir sebagai istilah yang paling ekstrim. Lebih jauh, hal-hal terkait nasionalisme pun menjadi tak lagi berarti, yang paling viral adalah sikap terhadap bendera, yang notabene merupakan salah satu identitas sekaligus keebanggaan sebuah negara, bagi mereka tak patut lagi dihormati apalagi dikibarkan tinggi.

Ide-ide gila tersebut setidaknya muncul melalui sebuah infiltrasi diam-diam berkedok usroh/halaqoh/liqo’ dan beberapa istilah senada lainnya. Penggunaan istilah dan strategi yang islami seperti ini agaknya menjadi jubah yang aman bagi mereka untuk bebas menyebarkan paham-paham bermuatan radikalisme. Halaqoh-halaqoh di berbagai institusi pendidikan khususnya menengah-tinggi mulai menjamur dan berkembang pesat pada kurun dekade pertama milenium kedua.

Pada awalnya, ini merupakan angin segar bagi para guru dan orang tua, yang sejak awal memang sudah terstigma bahwa dengan adanya halaqoh di lingkungan sekolah atau kampus, maka kebutuhan akan sebuah sarana pembinaan moral dan agama terhadap anak-anak mereka senantiasa tercukupi.

Selain itu, bagi para orang tua, peran aktif anak-anak mereka yang tergabung dalam rohis tersebut dinilai sebagai sebuah kebanggaan dan langkah yang visioner sekaligus revolusioner, di tengah berbagai upaya antisipatif guna menangkal pengaruh buruk globalisasi, seperti halnya penyalahgunaan narkotika dan pergaulan bebas yang memang sejak awal tahun 2000an mengalami peningkatan angka kejadian yang cukup signifikan nan memprihatinkan. Disadari atau tidak, sikap atau paradigma yang (ironisnya) berangkat dari prasangka baik orang tua, malah menjadi bumerang, dimanfaatkan sedemikian rupa (oleh mereka) hingga menjadi salah satu faktor pendukung maraknya praktik ‘kaderisasi bodong’ tersebut. Hingga, semakin besar tingkat kepercayaan orang tua terhadap rohis-rohis dan/atau halaqoh-halaqoh yang ada di sekolah/kampus, berbanding lurus pula dengan kesempatan menjadikan itu semua sebagai pintu yang amat lebar bagi mereka (kaum radikalis) untuk mewariskan nilai, sikap maupun mentransformasi informasi dan ‘komando’ guna menjamin kaderisasi gerakan radikal.

Pada (sebut saja) ‘halaqoh abal-abal’ ini, setidaknya terdiri dari 5 hingga 12an remaja tanggung sebagai anggotanya, atau istilah keren mereka; mutarabbi, yang tentu memiliki seorang yang dikultuskan dan diangkat sebagai pemimpin yang kerap dipanggil; murabbi.

Visi (picik) jangka panjang yang mereka istiqomah gelorakan meliputi, setidaknya, melakukan perjuangan atau mungkin dalam konteks mereka disebut jihad terhadap; (1) keluarga (2) pendidikan (3) sosial-budaya (4) parlemen/pemerintahan, dan terakhir adalah (5) konstitusionalisme [melakukan perubahan terhadap dasar negara].

Seperti disinggung sebelumnya, ‘arena’ potensial mereka adalah institusi menengah-tinggi, walau tak menutup kemungkinan, dan mungkin sedang dalam tahap penggarapan, bahwa jenjang pendidikan dini-menengah pun sedang dalam ancaman. Mengapa menengah-tinggi? Tentu karena ‘aset’ mereka adalah kader-kader penggerak di komunitasnya masing-masing, yang sudah mulai aktif mengisi lini sosial kemasyarakatan, yang amat potensial guna melakukan perubahan sebuah peradaban. Selain itu, sekolah maupun kampus dirasa memberikan akses yang cukup untuk bisa memobilisasi sebuah gerakan-gerakan intoleran dengan sistem ‘komando’.

Dimulai dari satu institusi ke institusi yang lain, dari perguruan tinggi ke SMA-SMA, dengan sasaran utamanya adalah sekolah-sekolah negeri. Karena, sekolah yang berbasis keagamaan agak sulit untuk dilakukan intervensi, karena sudah barang tentu memiliki proteksi yang jauh lebih mumpuni, walau sesekali kadang juga ada yang teracuni. Ironisnya adalah, dengan memanfaatkan segala fasilitas yang notabene disediakan oleh negara, mereka malah menyemaikan paham-paham anti kenegaraan.

Bagi yang pernah aktif di rohis SMA dan/atau kampus, bagi beberapa yang lain disebut SKI (Sie Kerohanian Islam), tentu jamak ditemui halaqoh-halaqoh kecil. Nah, peluang inilah yang dimanfaatkan dengan sangat cerdik (baca: picik) oleh para murabbi guna melakukan mentoring atau asistensi (bidangnya bisa luas, namun yang biasa dijadikan perhatian utama tentu adalah bidang keagamaan). Para siswa-siswi yang masuk dalam jaringan halaqoh/liqo’ inilah yang kemudian menjadi ‘aset’ guna didampingi oleh para mentor (murabbi). Kedepan, mentoring inilah (khusus bagi kampus, biasanya di bawah komando Lembaga Dakwah Kampus) yang dijadikan kendaraan untuk membangun militansi dan radikalisasi para ‘aset’, karena pada proses mentoring ini pulalah disisipkan materi-materi/isu mengenai gerakan islam trans-nasional.

Ketika sudah mulai terjaring ‘aset-aset’ yang militan (karena pada prosesnya, ada saja yang ‘sadar’ dini dan memilih untuk ‘kembali ke jalan yang benar’, meninggalkan rohis, dan beberapa langkah antisipatif lainnya), mereka mulai melakukan indoktrinasi beragama secara eksklusif, dengan jalan memahami nilai-nilai islam (yang mulia) dengan sikap yang monolitik sekaligus mengabaikan kearifan tafsir yang beragam. Setelah berbagai proses tersebut dilewati secara mulus, maka disadari atau tidak, ’aset’ yang sudah hampir ‘terbentuk’ tersebut telah mengalami proses pendisiplinan ritual keagamaan di lingkungan tempatnya bersosialisasi, kemudian terarahkan secara otomatis menjadi seorang mujahid militan yang kaffah, yang siap berjihad (baca: memerangi) melawan orang (yang mereka sebut) ‘kafir’.

Selain menggunakan metode pengkaderan melalui rohis, kelompok-kelompok (radikalis) ini juga menggunakan pendekatan teman sebaya sebagai penarik perhatian ‘aset’ yang ingin mereka rekrut. Para murabbi yang ‘disajikan’, dari sisi usia, tak terpaut jauh dari para ‘aset’, mereka umumnya merupakan kakak kelas/angkatan yang telah melalui proses kaderisasi sebelumnya. Pendekatan ini tentu lebih disenangi oleh para kawula muda dibandingkan dengan wali kelas, waka kesiswaan, guru BK atau bahkan dosen wali. Jika dicermati lebih mendalam, tujuan utama dari pendekatan semacam ini adalah, guna menciptakan rasa atau ikatan emosional antar murabbi dengan para ‘aset’nya, peran murabbi yang serba ada (membantu menyelesaikan hampir semua masalah termasuk kesulitan dalam memahami pelajaran di sekolah, pendampingan mahasiswa baru saat kesulitan dalam mengambil mata kuliah, dan bahkan hingga fasilitas untuk mencarikan jodoh demi kemurnian kaderisasi berkedok ta’aruf) kala para ‘aset’ membutuhkan tempat untuk bersandar, kian membentuk suasana in group, yang sudah barang tentu semakin memperbesar peluang suksesnya pengkaderan ala kaum radikalis.

Tak berhenti sampai di situ, fasilitas ibadah di lingkungan pendidikan tempat para ‘aset’ menimba ilmu pun tak luput dari incaran para kaum radikalis. Mushola dan/atau Masjid yang ada di sekolah maupun kampus merupakan salah satu sarana kunci untuk ‘mendakwahkan’ (baca: menjajakkan) paham-paham mereka. Mereka dengan sigap mengakuisisi fasilitas-fasilitas tersebut dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan, mulai dari pengajian rutin, diskusi ilmiah, hingga pendidikan anak usia dini.

Gerakan perubahan tak terkecuali radikalisme, tak akan pernah sukses secara sempurna jika tanpa ada campur tangan politik. Hal ini tentu sudah dipahami secara paripurna oleh para radikalis, sehingga mereka mewacanakan untuk menguasai berbagai organ-organ resmi sekolah/kampus seperti BEM, Senat, Majelis Wali Amanah, OSIS, MPK, UKM, Ekskul, dan lain sebagainya. Satu hal yang mungkin merupakan strategi terpenting bagi mereka. Tujuannya tak lain guna mengarahkan politik di lingkungan sekolah/kampus, seperti pada pemilihan rektor dan/atau dekan, mempengaruhi rekrutmen dosen dan/atau karyawan, dan bahkan hingga tingkat peneliti di wilayah laboratorium.

Semua langkah dan strategi di atas tentu bermuara pada suatu tujuan, setidaknya diawali dengan terpengaruhinya pola pikir, cara ‘aset’ untuk berkomunikasi dan/atau berinteraksi (contoh; soal jabat tangan dengan lawan jenis, suara perempuan yang dianggap aurat, hingga ke persoalan pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan). Cepat atau lambat, para ‘aset’ akan mulai melihat secara segregatif antara kita dan mereka, antara muslim dengan (yang mereka anggap) kafir, serta antara agama dan sekulerisme. Pada akhirnya, sepak terjang mereka akan menjadi sangat sektarian. Paham keagamaan akan menjadi sangat monolitik, pemilihan berdasarkan simbol-simbol dan identitas keagamaan akan menjadi semakin kuat, serta yang paling mengkhawatirkan adalah lahirnya paradigma baru terhadap agama yang amat eksklusif (muslim dan kafir). Ketika paradigma ini kian menjamur, maka jangan kaget jika nanti jargon takfiri akan menjadi salah satu media tanam bagi bibit-bibit terorisme.

(tas)

Simple Blooming Flower Instagram Post

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s