Adzan ; Panggilan Tuhan yang tak Toleran?

Belakangan ini, banyak kegaduhan akibat pertanyaan dan pernyataan seputar suara adzan yang pada hakikatnya merupakan suara merdu penuh keindahan. Adzan merupakan pernyataan ke-Maha Besar-an Tuhan, tak ada bagiNya bandingan, tidak ada Tuhan kecuali Dia yang maha memiliki segala kekuasaan, juga pengakuan terhadap manusia yang tlah menjadi sebaik-baik utusan, ajakan untuk senantiasa mengingatNya dan jalan menuju kemenangan, indah luar biasa, getarkan hati, haluskan perasaan.

Dimaklumi jika ada saudara yang kurang berkenan, mestinya kita harus instropeksi dimana letak kesalahan, agar kedepan bisa diterima dengan segala pemahaman, bukan malah dengan memunculkan paksaan apalagi kemarahan.

Jangan salahkan Ibu Sukmawati atau Ibu Meliana, jika dari kita saja belum bisa lembutkan perasaan manusia. Jangan sekedar mendirikan masjid dengan arsitektur indah nan megah tempat adzan menggema, namun belum bisa memberi tauladan untuk saling mengasihi dengan cara yang lega. Adzan harusnya membawa hati kita hadir kepada Tuhan yang Esa, bukan sekedar takbir yang melandasi huru-hara.

Tidak perlu memunculkan rasa tidak suka atau benci, bukankah jika Ia telah memberi, maka hidayah akan datang mudah sekali? Bagaimana mungkin kita sukses mengimplementasi al islam al wasathi jika lidah kita masih dipenuhi caci maki?

Keributan yang kini terjadi, bisa jadi merupakan doktrin terselubung dari mereka yang merasa paling benar sendiri. Gerakan intoleransi yang dibungkus dengan selimut toleransi.

Teringat salah satu bait dari syi’ir tanpo waton almarhum Gus Dur, “Akeh kang apal, Qur’an Hadits, seneng ngafirke marang liyane. Kafire dewe gak digatekke.” (Banyak hafal Qur’an dan Hadits, tapi gemar mengkafirkan kepada yang lain. Kafirnya sendiri tak diperhatikan.)

Apakah ini merupakan sebuah nasihat yang isinya seakan menampar kita? Silahkan dinilai sendiri. Kalau kita coba telisik lebih jauh, nasehat ini pada prinsipnya berisi seruan toleransi, melindungi umat beragama yang lain, dan relevan dengan keadaan kita saat ini.

Perlu dipahami lebih jauh bahwa tidak setiap keluhan yang ada sangkut pautnya dengan salah satu agama atau aliran kepercayaan merupakan sebuah pelecehan, perlu kajian yang mendalam sebelum menentukan duduk perkara atau bahkan delik yang diadukan sebagai sebuah perbuatan penghinaan dan/atau penistaan terhadap suatu ajaran.

Terkait dengan adzan, benar bahwa ia merupakan perkara yang terkait erat dengan ibadah dalam agama islam. Namun, seluruh ulama sepakat bahwa adzan tidaklah wajib. Adzan hukumnya sunnah. Karena ia sunnah, maka akan mendapatkan pahala jika dilakukan dan tidak masalah ketika ditinggalkan.

Shalat yang dimulai dengan adzan adalah baik adanya. Jika tidak ada adzan pun, maka shalat seseorang tetap dianggap sah. Adzan tidak terkait dengan syarat atau rukun shalat sehingga tidak mempengaruhi sah atau tidaknya shalat seseorang.

Adzan sendiri sesungguhnya mempunyai dua fungsi. Pertama sebagai penanda awal waktu shalat. Kedua adalah sebagai panggilan shalat. Jika adzan dilaksanakan di awal waktu, bearti ia telah menjalankan dua fungsi sekaligus. Namun jika tidak dilakukan di awal waktu, maka ia hanya menjalankan satu fungsi saja, yaitu ajakan untuk melaksanakan shalat berjamaah. Yang pasti, semua ulama sepakat bahwa shalat tetap sah tanpa adanya adzan.

Para ulama telah memberikan penjelasan yang cukup gamblang terkait hal ini, yang kemudian menjadi rujukan ulil amri / pemerintah untuk menentukan sebuah produk hukum yang diharapkan mampu mengayomi seluruh kepentingan bermasyarakat, tentu dengan pertimbangan yang sangat matang pula. Semuanya punya ketetapan hukum sendiri dan punya implikasi dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia. Mencampur adukkan antara persoalan satu dengan yang lain tanpa merujuk pada berbagai disiplin ilmu dan pendekatan, sangatlah berbahaya. Ia juga akan mengacaukan sistem hukum dan rawan memecah belah, tak hanya umat Islam, namun lebih jauh adalah persatuan Indonesia.

Mayoritas dari kita tentu bersepakat bahwa adzan itu penting, sebagai pelengkap ibadah sholat dan menghidupkan sunnah Rasul. Namun menganggap keluhan terkait suara muadzin atau volume adzan sebagai persoalan besar yang terkait dengan penistaan terhadap agama, nampaknya masih harus dicerna matang-matang.

Persoalan kebhinnekaan juga bukan hal sederhana. Banyak pertimbangan yang telah dijadikan dasar oleh para pemangku kepentingan untuk dapat membuat berbagai peraturan yang dapat memfasilitasi sedemikian rupa berbagai elemen dan latar belakang masyarakat Indonesia yang majemuk. Tidak serta merta kita yang mayoritas menjadi seakan-akan digdaya atas yang lain, seenaknya menjustifikasi dan main hakim sendiri, lebih-lebih dengan berkedok membela agama, apakah agama mengajarkan konsep keadilan yang demikian? Apakah itu keadilan dari Tuhan atau sekedar representasi dari emosi dan hawa nafsu kita belaka? Hanya kita yang sanggup menilai, jika masih punya hati nurani.

Tak perlu melibatkan agama terlalu jauh, karena pada hakikatnya, konsep kemanusiaan saja sudah cukup untuk bisa menjawabnya. Kita musti menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Dalam konteks kali ini, penentuan porsi tersebut tentu perlu mempertimbangkan hak-hak umat lain, keadilan sosial, dan kemaslahatan masyarakat, tidak serta merta menutup mata dan mengunci telinga.

Jika bicara keadilan, entah sudah berapa juta kali saudara kita yang non-muslim mendengar lantunan adzan. Lima kali sehari sepanjang tahun, dari surau, mushola, hingga masjid, semua menyuarakannya. Meski berbeda agama, apakah sering kita dengar saudara kita itu jenuh mendengar adzan? kami yakin tidak. Bahkan, saking sering mendengarnya, mungkin sebagian dari mereka sudah ada yang bisa melantunkan adzan dengan paripurna.

Indonesia tumbuh bersama alunan adzan maghrib yang membersamai lonceng gereja setiap sore. Tanpa ada keluhan dan caci maki antar umat. Semua merasa ‘tepo seliro’ sehingga tak ada yang beradu mana yang lebih keras. Toh kalau pikiran kita jernih, keduanya merupakan bentuk undangan untuk berdoa kepada Tuhan. Serentaknya denting genta dan merdunya adzan inilah bentuk real dari sebuah masyarakat Indonesia yang majemuk nan penuh toleransi.

Dilihat dari sisi fungsi, adzan harusnya bukan hanya milik sebagian kelompok. Adzan merupakan panggilan jiwa, milik mereka yang mau mendengar dan menyerahkan hati kepada Sang Pencipta. Adzan juga tak sekadar membangunkan tidur manusia, tapi juga menggugah untuk berhenti sejenak dari aktivitas, seraya mengucap syukur atas segala nikmat yang tak patut didustakan. Adzan harusnya bisa menyatukan mereka yang menghayatinya, bukan malah membuat pecah belah.

Itulah mengapa sebagai muslim yang juga ber-Indonesia, adzan mestinya disyiarkan dengan khidmat dan sesuai aturan hukum positif sehingga mampu menyampaikan pesan-pesan Ilahiah untuk mengajak umat bersujud dan merasakan sapaanNya. (tas)

“Adzan mestinya mampu membawa kita kepada Sang Pencipta, bukan malah berperkara kemudian saling sewa pengacara.”

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

 

Blue and Orange Sound Wave Music Business Card

Advertisements

One thought on “Adzan ; Panggilan Tuhan yang tak Toleran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s