Mengintip Dunia Drama Korea

Sebelum lebih jauh ke pembahasan yang lebih dalam, ijinkan saya memperkenalkan diri sebagai seseorang yang telah menggemari drama korea lebih dari 14 tahun. Yha netijen, selama itulah saya menonton drama korea. Dimulai dari kelas 4 SD, ketika Won Bin masih unyu-unyu dan sering mejeng di televisi, hingga telah berganti era menjadi era-nya So Jong Ki. Kalau dirunut lebih dalam, saya yang waktu itu kelas 4 SD hanya menonton drama korea macam Endless Love dengan pengawasan nenek, lengkap disertai full sensor pada adegan-adegan yang tidak patut. Pun juga dengan drama-drama sejenis lainnya yang kerap kami tonton selalu memiliki alur yang erat kaitannya dengan konflik keluarga.

Kembali ke masa kini, dengan kemudahan akses teknologi yang tidak terbatas membuat drama korea semakin mudah diakses tanpa filtrasi. Lalu ijinkan saya untuk suudzon sekejap saja─ hanya dalam laman ini saja. Dilihat dari arus respon di berbagai media sosial, sepertinya drama korea masa kini dengan mudah melahirkan generasi dewasa terlalu dini, yang mulai (atau sudah) mengkultuskan diri dengan kekuatan cinta. Bukan cinta yang sebenar-benarnya cinta, namun cinta mainstream yang selalu diibaratkan dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Oh kira-kira begitulah.

Hemat saya― yang juga sebagai penggemar drama korea─ menjadi seorang pecinta drama korea kebanyakan akan dianggap memiliki citra freak oleh beberapa kalangan karena dikaitkan dengan dedek-dedek yang baru saja “mengenal indahnya lautan drama korea”. Padahal menurut saya para veteran penikmat drama korea (seperti saya) memiliki kriteria sendiri dalam menentukan drama favoritnya. Bagi mereka, drama korea yang bagus selain menghibur juga harus memiliki kriteria seperti berikut ini (mungkin kamu bisa menjadikan hal ini referensi) :

  1. Alur cerita anti mainstream yang tidak bertele-tele
  2. Pemain yang menarik dan bisa berakting dengan paripurna
  3. Episode tidak terlalu panjang, kalaupun panjang harus benar-benar worthy macam “Jewel in The Palace”
  4.  Menghibur

Mampu memilah drama yang berkualitas memang perlu dilakukan. Tapi tak cuma itu saja, menjadi seorang penikmat drama korea (drakor) pun harus cerdik membedakan bahwa “hidup itu tak seindah dan semenyedihkan” kisah drakor. Ya iyalah, sebagai penikmat yang bermartabat, kita harus mengedepankan aspek agama, moral, budaya dan nilai-nilai kebangsaan dalam diri kita. Itu juga merupakan filter diri, agar kita tidak terlalu berlebihan dalam menyukai sesuatu. Istilah jaman sekarang supaya kita tidak menjadi sasaeng fans, yang mendewakan seseorang. Idola boleh saja sih para pemain ganteng (bagai porselen) itu kita pilih, tapi ya, gimana ya, banyak loh tokoh-tokoh bangsa yang cerdas nan berpengaruh yang lebih worthy daripada hanya sekedar rupa belaka. Maksud saya kecintaanmu terhadap korea itu, perlu dibarengi dengan kencintaanmu terhadap hal-hal lain yang positif dan meng-Indonesia. Biar seimbang gitu.

Contoh, ada teman saya yang suka sekali melihat ketampanan Park Seo Joon, namun ternyata dia juga begitu mengagumi sosok Bung Hatta (beda juga ya preferensinya). Tapi tidak masalah, baginya Park Seo Joon hanya hiburan bukan panutan. Meski suka drakor dia tetap mengagumi sosok pahlawan bangsa.

Ya, tidak bisa dibandingkan juga sih. Hanya saja, kalau kamu bisa tahu banyak soal idol-idol atau aktor drama korea, kenapa tidak mencari tahu idola bangsa, yang berperan penting bagi negara ini?

Kira-kira begitulah, pendapat subjektif dari penulis. Mungkin di antara pembaca kolong kata ada yang juga menggemari drama korea? Bisa dong share pendapat.

Boleh sih ya suka drakor, tapi dunia ini isinya bukan cuma drakor, sayang.  Be realistic!

(din)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

 

The Maine Lobster Festival

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s