Simbol Tauhid; Miskonsepsi Berbau Politis?

WhatsApp Image 2018-10-09 at 14.42.08

Kembali, masyarakat tanah air tersulut dan dibuat gaduh oleh sebuah isu baru nan menghebohkan bertajuk ‘anti-tauhid’. Pasalnya, ada sekelompok masyarakat yang menggunakan atribut yang di dalamnya terdapat kalimat berbahasa arab bermaknakan ‘tiada Tuhan selain Allah’, yang dirasa merepresentasikan salah satu ormas terlarang, mendapatkan pertentangan dan penolakan di salah satu wilayah pada suatu kegiatan. Hal ini menarik karena seakan agama senantiasa menjadi isu yang tak kunjung padam menyita perhatian di tengah kemajemukan bangsa. Apalagi, memasuki tahun politik, atribut-atribut keagamaan jamak dikenali sebagai ‘pelengkap’ beberapa aksi demonstrasi, unjuk gigi dan bagian dari keramaian panggung kontestasi.

Seyogianya alasan bertauhid pada Tuhan bukanlah karena simbol-simbol materialistik, melainkan karena rasa, rasa cinta padaNya, rindu, juga rasa-rasa kehambaan yang lain. Mustinya, yang dibenci dan dipersekusi adalah unsur-unsur individualis-sektarian yang telah mengotori kesucian kalimat tauhid dengan menjadikannya alat propaganda dan politisasi. Selain itu, terkadang, kepentingan dan/atau idealisme dari suatu golongan telah cukup jauh mengintervensi atribut keagamaan, sehingga muncul stigma ‘kebal’ dan tak terdebat. Di samping itu, hal yang kemudian menjadi menarik adalah, kemampuan dari setiap pimpinan organisasi dalam meng-assessment masyarakat sehingga mau tunduk, patuh, hingga menjadi loyalis bagi kepentingan-kepentingan duniawi mereka, dengan justru mengesampingkan kesucian simbol-simbol ukhrowi. Tidak berlebihan jika kemudian muncul istilah, bercumbu dengan dunia namun berselimutkan agama.

Agama yang semestinya menjadi substansi, di zaman milenial ini justru dijadikan sebagai kerudung kontestasi. Tak mengherankan jika masyarakat awam yang hanya melihat berbagai hal dari kacamata yang sebatas syariat, termakan oleh isu dan/atau hoax yang kian merajalela. Gagasan yang semestinya diadu bukan lagi menjadi hegemoni, kalah dengan kicauan politis berbalut simbol-simbol agamis. Kini, agama seakan terbatas hanya pada lambang, marka, dan/atau icon tertentu, yang sejurus dengannya mulai menafikkan adab dan roso sing sjatining mung ono jroning dodo.

Bahkan, belum genap menjadi manusia saja, kita sudah terlalu percaya diri untuk lelaku agama. Sejatinya sholeh secara spiritual takkan pernah bisa menafikkan sholeh secara sosial. Jika meminjam syair gubahan Alm. KH. Abdurrahman Wahid, ojo mung ngaji syariat bloko, gur pinter ndongeng nulis lan moco. Kita seakan ditampar, yang memang cenderung hanya mengaji perihal syariat saja, padahal islam tak sesempit itu, yang pada akhirnya menjadikan kita makhluk yang sekedar kenyang akan dongeng dan samudra kata-kata.

Alam ini pun merupakan sekumpulan ayat-ayat kauniahNya, tentu bagi mereka yang bertafakkur. Terkadang, kita memang berfikir akan semua itu, tapi lebih sering terperdaya oleh itu semua, sehingga dengan ringannya saling mengklaim kebenaran dan adu lempar kesalahan. Padahal, yang mesti kita sadari baik-baik adalah, selama masih dalam domain manusia, kebenaran tidaklah tunggal.  Yang tak kalah penting adalah rasa penghormatan kita atas amanah Tuhan, senyampang kita sadar akan peran-peran kita sebagai makhlukNya, kehidupan ini akan cenderung toto tentrem kerto raharjo.

Kalimat tauhid adalah sebuah jalan bagi para penyanjung sekaligus penyenandung yang merindukan ketenangan hati di balik bilik-bilik zawiyah al-kamaliyah. Jikalau ada yang musti dipersalahkan, bukan kalimat sucinya, salahkanlah diri kita yang tak pernah merasakan nikmatnya bertauhid.

Memang, kontestasi politik senantiasa menyajikan berbagai macam drama, hingga ranah agama pun turut ikut dibawa-bawa. Sayangnya, gema takbir dan kalimat tauhid yang mestinya suci, turut ternodai kala digunakan sebagian oknum untuk mempertegas hinaan dan caci maki. Bendera bernafaskan tauhid yang juga ikut dikibarkan, seolah menjadi tameng untuk bebas melakukan pemunafikan dan bahkan usaha-usaha menuju pemberontakan. Lalu, apakah dengan simbol-simbol keagamaan yang istiqomah dipekikkan dan dikibarkan tersebut mampu menghalalkan kedzoliman? Bukankah agama itu realisasi, bukan sekedar simbol penuh teori? Bukankah output dari setiap ajaran agama adalah kebaikan dan kemaslahatan? Apalah artinya berjubah mewah dengan segala macam atribut keagamaan, tapi justru membawa keresahan bagi khalayak yang sebelumnya tentram dan aman?

Bagaimana mungkin ada pihak yang tega mengkebiri simbol-simbol ketauhidan, yang justru melalui perantaranya seseorang mendapatkan status mulia, keimanan. Apakah kalimat tauhid yang tertulis di bendera, spanduk, selebaran, dan lain-lain itu sudah paripurna sebagai sebuah alat politik? Sedangkan kita mahfum bahwa politik itu profan (tidak sakral); bisa diterima, bisa pula ditolak.

Seperti survey yang telah kami lakukan di sosial media bahwa dari 193 orang hanya sekitar 23 orang yang menyatakan pilihannya apakah gerakan atribut dengan kalimat tersebut sudah marak di lingkungan mereka sebanyak 53% menjawab iya dan 47% menjawab tidak sementara sisanya memilih abstain atau tidak menjawab. Apakah ini merupakan bentuk ketidakpedulian dari para generasi muda terhadap suatu fenomena?

Di luar hal tersebut setidaknya ada beberapa hal yang mampu kami ambil dari survey singkat yang dilakukan, salah satunya bahwa di antara inner circle kita pasti ada yang mengikuti trend pemakaian atribut dengan komponen kalimat tauhid. Dibandingkan dengan yang menjawab “tidak”, jumlah yang menjawab “iya” cenderung lebih banyak meskipun tidak signifikan, hal ini juga mampu menunjukkan bahwa gerakan tersebut mulai dikenal dan diikuti oleh masyarakat, meski tak banyak.

Satu hal yang kini musti kita jadikan pelajaran dan renungan, apakah kalimat tauhid yang notabene merupakan fondasi utama dalam beragama sekaligus menjadi kewajiban kita bersama sebagai seorang muslim untuk memuliakannya, ketika kita secara sadar menjadikannya sebagai alat politik, jangan-jangan di saat yang bersamaan, justru kitalah yang sedang merendahkannya.

Wallahu a’lam~

(tas)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s