Layakkah Laut Disedekahi?

Jika ditilik dari segi klimatologi, sedekah laut atau yang kerap disebut ‘larung sesaji’ oleh masyarakat nelayan tradisional di sebagian pesisir jawa dilakukan sebelum musim angin besar, yang mana jamak diketahui terjadi pada bulan januari dan juli, sehingga prosesi sedekah laut kerap dilakukan pada akhir tahun sekitar oktober – desember dan/atau pertengahan tahun sekitaran juni.

Sedekah laut pada umumnya diawali dengan mengadakan upacara adat, yang tentu berbeda di setiap wilayah, namun yang tak pernah terlewat dari sekian banyak wilayah yang melakukan sedekah laut tersebut adalah proses berdoa dan bersyukur atas segala limpahan rezeki yang telah dicurahkan oleh Sang Maha Kaya. Kemudian diikuti dengan prosesi melarung ‘sedekah’ ke spot tertentu di laut. ‘Sedekah’ ini meliputi berbagai macam hasil bumi seperti halnya nasi, jagung, singkong, dan di daerah tertentu bahkan dilengkapi dengan kepala kerbau/ sapi/ kambing yang telah dibakar secukupnya, daun kelapa, tali dan batu, juga bunga sebagai pelengkap ‘ritual’ sedekah laut.

Setelah mencapai spot tertentu, pembungkus yang biasanya menggunakan daun kelapa adalah yang pertama kali diturunkan bersama batu seagai pemberat (agar mampu tenggelam), kemudian disusul dengan aneka hasil bumi lainnya. Mau diakui atau tidak, diterima atau ditentang, prosesi ini secara empirik telah berlangsung secara turun temurun, bahkan di beberapa wilayah di Jawa, jalur pelarungan merupakan jalur/ rute dagang para leluhur nelayan tersebut sejak jaman kerajaan. Selain itu, yang menarik untuk dicermati secara biologis adalah aplikasi saintifik dalam proses pelarungan secara umum menunjukkan kemajuan pola pikir para leluhur nelayan kita, dimana daun kelapa yang dijadikan pembungkus ‘sedekah’ baru akan busuk dan hancur setelah kurang lebih 2 – 3 bulan ketika ditenggelamkan ke dalam laut, hal ini dimaksudkan sebagai rumah bagi para plankton dan ikan-ikan kecil. Sedangkan kepala kerbau yang dibakar dan aneka hasil bumi yang dijepit serta dibungkus daun kelapa akan menumbuhkan jasad renik / plankton, kedepan plankton akan mengundang ikan-ikan kecil, sedangkan ikan kecil akan mengundang ikan besar, selanjutnya mereka aman berkembang biak selama musim angin besar.

Setelah musim angin berlalu, para nelayan-nelayan ini akan mulai datang kembali ke daerah pelarungan untuk melakukan proses pemanenan pertama dengan menggunakan jaring yang berlubang besar, tujuannya tentu agar ikan kecil bisa lolos dan sempat membesar. Barulah, pada bulan-bulan berikutnya, mereka panen ikan besar dengan kuantitas yang cukup banyak. Jika satu grup kapal menuju daratan untuk menjual/melelang ikan, maka grup yang lain akan menjaga ‘rumpon’/ tempat mereka melarung ‘sesaji’ minimal sekitar seminggu, baru kemudian panen, begitulah seterusnya mereka bergantian.

Jadi, pada hakikatnya, dan jika ditilik dari sisi obyektif-santifik, motif para nelayan-nelayan kita melakukan sedekah laut/ larung sesaji adalah dalam rangka memelihara ekosistem laut, satu hingga dua kali setahun, terlepas dari sebagian oknum yang memaknai dan/atau menambahinya dengan unsur klenik.

Dewasa ini, tak bisa dipungkiri bahwa sedekah laut telah banyak mengalami modifikasi dan bahkan akulturasi, yang menimbulkan berbagai stigma dan perspektif, mulai dari perbuatan syirik, hingga ke membuang-buang makanan. Namun, jika kita mau sedikit mengesampingkan ego kita dan mencoba untuk obyektif serta husnudzon, maka sedekah laut ini sebenarnya adalah bagian dari proses memberi makan hewan-hewan di laut yang dibalut dengan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia, yang kemudian berujung sebagai sebuah prosesi sedekah ,bersyukur atas nikmat yang diberi oleh Tuhan Yang Maha Kaya. Karena itu pulalah, prosesi ini disebut sebagai sedekah laut atau sedekah bumi. Maka dari itu, secara filosofis, tradisi ini memiliki nilai edukasi sekaligus budaya yang amat luhur, yaitu mendidik masyarakat agar tidak hanya memanen ikan yang ada di laut, namun juga merawat dan memberinya makan. Amat disayangkan jika tradisi yang adi luhung ini sirna oleh intervensi beberapa pihak yang intoleran nan bersumbu pendek dalam memahami sebuah ‘prasasti’ yang arif dan penuh nilai filosofis. Yang mustinya dijadikan perhatian ataupun disyiarkan bukanlah dalil-dalil kesyikrikan, atau bahkan malah saling mengkafirkan, tapi niat murni untuk mensyukuri serta menjaga keharmonisan dengan alam dan lautan yang juga merupakan makhluk Tuhan.

(tas)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

 

Ocean Themed Presentation

Advertisements

2 thoughts on “Layakkah Laut Disedekahi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s