Aku Sedang Melihat Kacamata Milenials dan Isu Agama (Sebuah Opini)

Menyimak kejadian-kejadian yang terjadi di bangsa ini, memang seperti tidak ada habisnya. Seperti puisi chairil anwar yang selalu diingat para pujangga muda, yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti, seperti itulah isu-isu sosial, politik, budaya, ekonomi dan agama semakin merasuk menghujam jiwa para pembaca #eeaa. Sehingga mau tidak mau kita dipaksa untuk berpikir dan mengkritisi sesuatu― paham atau tidak. Hingga akhirnya hal ini berujung pada sebuah upaya mengikuti arus yang kerap dilakukan para milenials.

Derasnya informasi tanpa adanya filter yang tepat adalah sebuah permasalahan yang tidak bisa dianggap remeh. Sosial media penyebabnya, bahkan selebgram semuda Awkarin saja dengan tegas menyatakan bahwa sosial media mampu berubah menjadi racun yang akan menghancurkan pemakainya. Jika Awkarin mulai menyadarinya, mengapa kita tidak? Bukankah isu-isu yang sering kita dengar belakangan ini berhembus kencang dimulai dari sosial media?

Agama itu sakral, tingkat ketakwaan dan tendensi seorang hamba adalah masalah personal seseorang dengan Tuhannya. Cukup miris melihat isu-isu agama datang silih berganti, hilang kemudian ada lagi, begitu saja, seperti sebuah siklus. Belum selesai kita dengan berita seorang influencer, (ituloh!) youtuber yang katanya terkenal dan disinyalir melecehkan dan memperolok agama islam. Belum tuntas rasanya kita mencoba memahami peristiwa itu, baru-baru ini masyarakat sudah dihebohkan kembali dengan peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang memiliki kalimat tauhid di dalamnya.

Banser pun menjadi bulan-bulanan oleh kubu seberang yang tak pernah setuju. Di sisi lain, banyak yang menyayangkan kejadian itu dan memilih tetap bertabayyun sambil membiarkan polisi memeriksa kasus ini. Sisi lainnya lagi, terlihat pesimistik dengan kepolisian dan mengatakan bahwa ini ditunggangi oleh isu politik, kemudian berasumsi bahwa pemerintah adalah kubu yang anti tauhid. Melihat berbagai mudahnya orang berspekulasi saya jadi teringat oleh tulisan Chandra Malik dalam esainya beberapa waktu yang lalu, “hakim-hakim baru dan tuhan-tuhan kecil bermunculan dalam diri manusia”.

Lantas, kini, semua orang seperti marah-marah―tersulut dengan dalih mereka tidak terima agama islam dan kalimat tauhid dilecehkan. Sama saja dengan menghinakan lafal Allah, katanya. Sejujurnya agak merinding menuliskan kalimat ini, saya sama sekali tidak patut mewakilkan apa yang dirasakan/ tertuju pada Allah karena sungguh batin ini masih jauh dari sifat benar dan dipenuhi banyak keburukan. Seperti mengira-ngira apa yang dirasa Allah, seakan-akan Allah marah. Kita menyatakan diri seperti itu dan merasa tersinggung dengan melakukan kalimat-kalimat provokatif yang membuat manusia saling membenci, namun apakah Allah ridho dengan sikap kita tersebut? Lantas siapa kita yang maha kecil ini berani melakukan aksi amarah, membela dan mengatasnamakan Allah yang Maha Besar. memangnya siapa kita berani menerka respon Allah?

Bro dan sist sekalian, izinkan saya menunjukkan kacamata saya dalam melihat berbagai kasus di negeri ini. Sebagai salah satu milenials, yang suka berselancar di dunia maya,  saya juga akan menunjukkan beberapa teori (hasil dari surfing internet) tentang ilmu sosial dan humanitas (karena saya sejatinya hanya orang eksakta, yang tidak tahu apa-apa).

Chairil, Banda Neira dan Efek Bandwagon

Seperti kalimat pembuka esai ini― yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Sajak puisi Chairil yang dinyanyikan kembali dengan merdu oleh Banda Neira. Berita satu hilang, berita lain datang. Seakan dilupa atau sengaja membuat benang merah yang terstruktur, dalam periode yang cukup singkat― secara massif isu-isu agama pun bertebaran. Seakan mengacaukan umat karena kita dibuat bertanya-tanya. Harus memilih siapa dan ada di pihak mana? Mau tidak mau komoditas informasi membuat kita membentuk berbagai kubu. Menolak silahkan keluar dan anda akan bertentangan.

Efek Bandwagon (bandwagon effect) namanya― sebuah istilah psikologis dimana seseorang melakukan tindakan yang dipengaruhi oleh tindakan kebanyakan orang. Istilah gaulnya “ikut-ikutan”. Orang Indonesia sekarang kebanyakan menjadi follower, begitu mudahnya dipengaruhi oleh norma dan tekanan yang ada dalam sebuah kelompok. Tipe individu sekarang, ingin sama dengan kebanyakan, ingin diakui dan ingin diterima.  Kalau baik sih tidak apa-apa, lah kalau tekanan dan norma yang ia terima membawa dampak buruk, walhasil pikiran dan hati nurani jadi ikut buta. Seperti cinta buta yang pernah kamu rasakan dulu saat remaja, mbak dan mas. Ehe.

Ciri-cirinya bagaimana? Kita akan berteriak “iya” untuk sesuatu yang ramai-ramai dipercayai orang-orang atau mengatakan “tidak” untuk korupsi untuk sesuatu yang dicap buruk oleh mayoritas inner circle mereka. Terlebih jika argumentasi itu datang dari orang yang mereka sukai, orang yang mereka idolakan, kelompok yang mereka agungkan atau dari do’i yang mereka sayangi― 100% berita apapun akan di-iya-kan dan diikuti. Padahal loh guys, cobalah kita melihat sebentar saja, ada yang aneh dengan berita-berita itu.

Mainkan music “The X File Soundtrack”~

Dimulai dari berita yang terdekat saja, dari sedekah laut yang menimbulkan banyak asumsi. Kemudian, terjadinya heboh dunia youtube soal majelis lucu Indonesia dengan kurma babi, yang menyebabkan munculnya argumen baru dialamatkan soal bagaimana kita memandang agama dan memahami dark comedy. Tak berselang lama nih, ada insiden pembakaran bendera yang ramai di media. Seperti sekutu yang memboncengi NICA pada tahun 1945, saya curiga kali ini tindakan bonceng-membonceng dilakukan para oknum dengan mengatasnamakan agama, untuk melancarkan niat pribadi kelompok.

Apakah itu politik? Apakah itu HTI? Apakah itu pihak lain? Wallahu a’lam.

Padahal agama adalah sesuatu yang suci, bebas dari kepentingan. Islam adalah agama yang holistik yang sudah mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya― sebuah kesempurnaan. Terbebas dari segala macam keburukan. Islam adalah soal menunjukkan kesantunan, kelembutan dan kebaikan yang paripurna. Bahkan ketika Rasulullah SAW sedang marah, beliau hanya diam. Ketika islam pada jaman itu dihina, Rasulullah dicaci habis-habisan beliau tetap melakukan kebaikan seraya ingin menunjukkan bahwa islam adalah agama cinta kasih.

Kalau kalian memang marah, itu pilihan. Dunia ini memang dipenuhi banyak pilihan, akan lebih baik bila kita melihat lebih dekat, dengarkan apa yang terjadi, lihat dua sisi dan jangan memakai kacamata kuda (baca artikel kolong kata yang lain juga boleh Layakkah Laut Disedekahi? atau ‘Tauhid’ yang Terbakar (Sebuah Opini)). Dimulai dari ketahui makna tauhid, sejarah sebuah bendera, sepak terjang NU di negeri ini, bagaimana HTI sebenarnya dan kronologi kejadiannya seperti apa. Yang jelas—karena ini opini subjektif (yang sudah dipikirkan matang-matang) penulis sih cuma mengacu dan manut pada UU pemerintah saja.

Perpu No. 2 Tahun 2017

Yang isinya menegaskan, bahwa Organisasi Kemasyarakatan yang selanjutnya disebut Ormas adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Menurut Perppu ini, Ormas dilarang menggunakan nama, lambang, bendera, atau atribut yang sama dengan nama, lambang, bendera, atau atribut lembaga pemerintahan; menggunakan dengan tanpa izin nama, lambang, bendera negara lain atau lembaga/badan internasional menjadi nama, lambang, atau bendera Ormas; dan/atau menggunakan nama, lambang, bendera atau tanda gambar yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau secara keseluruhannya dengan nama, lambang, bendera, atau tanda gambar Ormas lain atau partai politik.

Selain itu dalam Perppu ini ditegaskan, bahwa Ormas dilarang melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras atau golongan; melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia; melakukan tindakan kekerasan, mengganggung ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; dan melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ormas juga dilarang melakukan kegiatan sparatis yang mengancam kedaulatan NKRI, dan/atau menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila. (dikutip dari setkab.go.id)

 

Bencana Alam dan Isu Agama

Bersabda Rasulullah SAW:

Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751)

Yha, teman-temanku yang budiman. Banyak sekali argumen silih berganti bahwa bencana alam terjadi akibat ulah manusia yang liberal, yang tidak kenal agama, yang musyrik dan juga kafir, melupakan Tuhan. Itu semua akibat dari ulah mereka sendiri, mereka bilang Allah murka.

Termasuk banyaknya isu agama ini, dijadikanlah senjata dan dikait-kaitkan dengan bencana alam. Bisa-bisanya perbedaan pendapat dan konflik antar kubu dijadikan alasan yang melatarbelakangi murka Allah. Bahkan penetapan tersangka yang dialamatkan pada salah satu individu, dikaitkan dengan bencana alam di Palu. Sungguh terlalu. Kini bahkan sedekah laut (pernah dibahas di artikel lain kolong kata guys), juga ikut-ikutan disambungkan dengan murka Allah dengan bencana.

Padahal sesungguhnya seperti yang kita tahu, rahmat Allah lebih besar dari murka Allah. Indonesia memang terletak di daerah ring of fire, rentan bencana, anggaplah ini sebuah rahmat dari Allah agar kita selalu mengingat kematian dan dekat dengan Allah. Betapa bencana ini hadir agar kita bisa saling bersatu mengulurkan tangan dan berbagi meski kita dipisahkan oleh perairan dan jarak yang berkilometer jauhnya.

 

Kita Sudah Melakukan Apa?

Sebagai muslim urban yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama yang mendetail dan mendalam, saya kadang merasa tidak pantas menyuarakan opini saya mengenai hal-hal yang berbau religius. Wong aku iki sopo toh. Tapi rasanya kali ini ingin urun bicara, karena banyaknya keanehan yang terjadi pada isu-isu tersebut dan beberapa kaum milenials bahkan generasi Z yang tidak tahu apa-apa sudah mulai terbawa arus isu agama ini (meski tanpa pencarian informasi yang dalam). Ketika seorang selebgram mengganti foto profil dengan kalimat tauhid berlatarbelakang hitam, anak-anak muda pun beramai-ramai mengganti foto profilnya. Tidak tahu pasti tendensinya apa, sebagai bentuk protes kah atau benar-benar mengakar dalam jiwa mereka kalimat tauhid tersebut, bahwa Allah satu-satunya tiada yang lain.

Kadang muncul pikiran negatif apakah mengikuti beberapa orang adalah jalan agar dianggap alim dan mumpuni dalam mengaplikasikan nilai ketauhidan dalam diri? Padahal sejatinya kita tidak perlu terburu dalam menilai dan menghakimi. Ambilah jeda untuk berpikir― untuk mencari.

Dalam hati kecil saya pun berpikir, mungkin mereka tidak berpura-pura, karena mereka memang cinta. Cinta kepada Allah, kepada agama Islam dan kepada kalimat-kalimat tauhid yang suci. Yang jelas kita tidak bisa menakar keimanan mereka dan juga keimanan kita sendiri pun. Namun emosi dan nafsu telah menguasai diri manusia-manusia yang sedang melakukan konfrontasi.

Seberapa jauh kita menanamkan tauhid dalam diri kita? Menasbihkan diri bahwa Allah lah satu-satunya tujuan kita, bahwa segala yang ada di dunia ini adalah jalan, hanya sarana untuk meraih ridho-Nya. Menjadi muslim yang baik tidak hanya lewat sosial media, namun dengan aksi nyata. Memberikan kebermanfaatan bagi sesama dengan niat beribadah dan berserah bahwa kita adalah sekecil-kecilnya dan selemah-lemahnya makhluk yang tak pernah bisa berkuasa atas apapun.

Pada akhirnya percuma kita lantang meneriakkan kalimat-kalimat takbir, menunjukkan simbol  La ilaha illallah dimanapun tapi nyatanya tidak di dalam kalbu kita. Bahwa islam sesungguhnya terlihat dari perilaku kita, dari tutur kata kita dan akhlak kita yang baik dan menentramkan bukan menyulut kobaran amarah atau provokasi.

Menarik napas sejenak, mungkin sebaiknya perhatian kita alihkan pada generasi muda dan adik-adik kita yang masih terjerat ketidakpedulian― cuek terhadap lingkungan sekitar dan main tik-tok seharian. Atau kepada sahabat yang masih terjebak dalam dunia kelam, yang bahkan tidak paham (atau ikut-ikutan berbicara soal isu agama), yang hidupnya bergantung di dunia malam atau suntikan obat terlarang. Lebih mudahnya bisa dilakukan dengan membantu seseorang yang galau berkepanjangan, untuk dialihkan berpikir kritis dan berkontribusi untuk umat daripada mikir cinta-cintaan.

Kita sudah melakukan kebaikan apa, mbak, mas, adik-adik dan kakak-kakak?

Yuk benahi diri, jadikan momen ini momen dimana milenials kembali bermuhasabah, tidak terpapar toksisitas media sosial dan selalu menanamkan kalimat tauhid dalam hati dimanapun kita berada.

Wallahu a’lam bisshawab

(din)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

 

senyum-anak-yatim20140421133057-1080x520

cr pic : http://firdausociety.blogspot.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s