‘Tauhid’ yang Terbakar (Sebuah Opini)

Belakangan ini kita semua dikejutkan dengan adanya berita pembakaran kalimat tauhid yang dilakukan oleh Banser di Garut, Jawa Barat. Berita tersebut tak perlu waktu lama untuk bisa menjadi viral di medsos. Tentu, sebagian masyarakat, khususnya yang bersumbu pendek telah tersulut emosinya tanpa tabayyun terlebih dahulu. Benar saja, caci maki, hujatan bahkan ancaman dan intimidasi muncul dan dialamatkan pada Banser.

Syok dan terkejut adalah reaksi yang wajar kala melihat atau mendengar berita tersebut di medsos, namun kita musti menyisakan sedikit akal sehat untuk bertabayyun dan berusaha mencari informasi yang berimbang sekaligus obyektif.

Setelah menunggu beberapa saat, hasil pengusutan oleh kepolisian menunjukkan fakta bahwa yang dibakar oleh oknum Banser di Garut adalah bendera HTI, bendera ormas terlarang karena merongrong NKRI dan hendak mengganti dasar negara, sejajar dengan apa yang diusahakan oleh PKI di masa lalu. Jadi, dari sini saja sudah jelas dan gamblang bahwa yang dibakar adalah simbol gerakan pengkhianat bangsa, yang kebetulan memiliki simbol berhiaskan kalimat tauhid.

Atas kenyataan ini, maka tak perlu dengan dahi yang berkerut, kita mustinya sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa peleceh kalimat tauhid yang sebenarnya adalah HTI. Sudah clear bahwa mereka telah menjadikan kalimat tauhid yang sakral, suci dan terhormat sebagai sebuah simbol gerakan politik yang profan, manusiawi dan duniawi. kalimat tauhid yang mestinya dihormati dan dijunjung tinggi telah didegradasi menjadi simbol gerakan politik yang posisinya sama dengan bendera-bendera politik lainya yang bergambar pohon, binatang dan/atau grafis-asbtraksi lainnya. Apalagi di sini, kasus yang telah dipahami bersama adalah bendera tersebut digunakan untuk melakukan pengkhianatan terhadap ideologi dan kedaulatan negara yang sah. Ini jelas merupakan tindakan yang tidak beradab dan penistaan yang nyata terhadap kesucian kalimat tauhid.

Tauhid merupakan inti ajaran Islam berupa pengakuan atas keesaan Allah SWT secara menyeluruh. Dengan pengakuan tersebut, seseorang bisa disebut muslim. Tanpa itu, sebaik apapun anak manusia, ia tetap dianggap non-muslim. Pada hakikatnya, seluruh ajaran Islam merupakan manifestasi dari kalimat tauhid yang ditulis dengan satu kalimat singkat, ‘laa ilaha illallah’. Dengan kalimat ini, setiap muslim menolak, membantah dan menegasikan eksistensi Tuhan, lalu menetapkan, memastikan dan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan. Tuhan itu Allah saja. Inilah doktrin pokok, utama, sentral dan sakral dari keseluruhan ajaran Islam.

Kalimat tauhid adalah kalimat universal milik semua kaum muslimin-muslimat dimanapun mereka berada, dari generasi ke generasi. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah SWT mengajarkan ketauhidan sebagai basis kehidupan yang wajib diyakini sebelum membangun peradaban. Ajaran tauhid yang dibawa oleh para Nabi adalah sama dan tidak berubah. Adapun cabang-cabang syariahnya, berbeda  sesuai kebudayaan manusia tempat seorang Nabi tersebut diutus.

Tauhid adalah doktrin tentang keesaan Allah SWT yang diyakini dalam hati, diaktualisasikan dengan perbuatan  dan termanifestasi menjadi sebuah kebudayaan dan peradaban. Jadi, tauhid bukanlah sekedar bendera atau simbol-simbol lainnya, tetapi aqidah.

Bendera berhiaskan kalimat tauhid akhir-akhir ini ramai dibicarakan setelah di beberapa acara publik ormas Islam seperti halnya tabligh akbar dan demonstrasi, acapkali dikibarkan oleh sekelompok massa. Memang, belum ada definisi baku tentang bendera tauhid, namun dari persepsi umum belakangan ini, yang dimaksud dengan bendera tauhid adalah sepotong kain bersegi yang bertuliskan dua kalimat syahadat.

Jika kita mencoba mengulik beberapa fakta, bendera tauhid memiliki cukup banyak variasi, antara lain bendera tauhid yang digunakan oleh Kerajaan Arab Saudi. Pada bendera Kerajaan Arab Saudi, terdapat pula gambar pedang di bawah dua kalimat syahadat berlatar kain yang berwarna  hijau.

arab2bsaudi2bbendera

Adapun bendera ormas Muhammadiyah, menambah kata ‘Muhammadiyah’ di tengah apitan tulisan dua kalimat syahadat (tauhid) yang berbentuk setengah lingkaran yang dipagari oleh garis-garis sinar matahari di atas kain berwarna hijau.

bendera-muhammadiyah

Sedangkan kelompok ISIS, juga mempunyai bendera ‘tauhid’ yang berwarna hitam dengan tulisan ‘Muhammad Rasulullah’ berbentuk bulat yang mereka yakini seperti stempel yang pernah digunakan Rasulullah SAW pada surat-surat Beliau SAW,

311644_620

Terdapat pula beberapa ormas Islam yang juga menggunakan dua kalimat syahadat pada bendera organisasinya, antara lain; Front Pembela Islam, Forum Umat Islam, Jama’ah Ansharusy Syariah dan Hizbut Tahrir Indonesia tentunya.

Pada kasus HTI, agak unik dan perlu dicermati. Lambang/logo Hizbut Tahrir internasional  adalah berupa bola dunia yang di tengahnya terdapat tulisan ‘Hizbut Tahrir’ dan bendera warna hitam bertulis dua kalimat syahadat

250px-hizbtahrir_logo_main

Sedangkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggunakan tiang bendera bertuliskan kalimat Tauhid berwarna putih berlatar bendera hitam, yang mana tiang bendera tersebut diletakkan di posisi huruf I kata ‘tahrir’ dan ‘Indonesia’ pada nama Hizbut Tahrir Indonesia.

lambang-hti-01-330x248

Jadi, gambar lambang Hizbut Tahrir internasional (pusat) dengan Hizbut Tahrir di wilayah Indonesia, berbeda.  HT dan HTI lebih menonjolkan bendera tauhid yang mereka sebut bendera Rasulullah SAW yang bernama Liwa dan Rayah, dibandingkan lambang/logo kelompok mereka sendiri.  Di antara ormas-ormas Islam yang menjadikan dua kalimat syahadat sebagai lambang, nampaknya hanya HTI dan ISIS yang begitu ‘memuja-mujanya’.

Umumnya, ormas-ormas Islam yang menjadikan tulisan dua kalimat syahadat di bendera mereka tidak lebih untuk menunjukkan aqidah yang dianut sekaligus identitas, landasan dan hakikat dari tujuan akhir dari semua aktivitas yang dilakukan oleh ormas tersebut. Barangkali hanya HTI dan ISIS yang mempersepsikan bendera tauhid sebagai bendera negara yang wajib ditegakkan.

HTI seringkali bermanuver untuk meyakinkan publik bahwa mereka bukan bagian dari kelompok pemberontak dengan alasan tidak mengangkat senjata, tidak melakukan tindakan anarki dan sejenisnya. Tapi, disadari atau tidak, berbagai gerakan mereka dalam menyebarkan ideologi dan sistem khilafah islamiyah, sarat dengan unsur politis sekaligus menjadi bukti yang tak terbantahkan dan terang benderang bahwa tindakan mereka telah mengancam kedaulatan dan ideologi negara.

Jika dikaitkan dengan konteks keagamaan, dalam Islam pun telah clear dijelaskan terkait dengan adab dalam melakukan kritik terhadap pemerintah musti dilakukan dengan santun dan lemah lembut, bahkan terhadap penguasa sedzolim Fir’aun sekalipun. Selain itu, telah menjadi kewajiban seorang muslim untuk taat terhadap ulil amri / pemerintah yang sah.

Dari sini, kita musti memahami, meski menggunakan simbol dan atas nama agama sekalipun, pemberontakan terhadap  negara dan sistem pemerintahan yang sah adalah sebuah pelanggaran yang serius dan harus ditindak tegas. Tindakan membakar bendera HTI tersebut jika ditilik dari sisi yang lain, pada hakikatnya merupakan sebuah tindakan yang bijak untuk menghindari terjadinya pelecehan dan penyalahgunaan lebih lanjut. Hal seperti ini bahkan sudah pernah terjadi di zaman sahabat, yaitu ketika Sayyidina Utsman bin Affan RA membakar mushaf Al-Quran untuk menjaga keotentikan Al-Quran. Sebab Mushaf yang Beliau bakar merupakan mushaf-mushaf yang bercampur antara ayat yang mansukh (disalin) dan ayat yang tidak mansukh. Dikhawatirkan jika mushaf-mushaf itu dibiarkan, banyak orang yang akan berpendapat bahwa lafadz yang bukan merupakan bagian dari Al-Quran dianggap sebagai bagian dari Al-Quran. Hal ini jelas akan berpengaruh pada keotentikan Al-Quran itu sendiri. Berdasarkan peristiwa ini, para fuqaha (ahli fiqih) berpandangan bahwa membakar Al-Qur’an jika bertujuan untuk menjaga kehormatan Al-Quran itu sendiri adalah hal yang diperbolehkan. Maka dari itu, mulai sekarang kita musti mulai mencoba untuk berpikir berorientasikan esensi, bukan hanya terjebak pada sampulnya saja.

Meski demikian, saya rasa akan lebih bijak, jika Banser yang terlibat dalam insiden tersebut mentaati SOP yang ada dan menyerahkan kepada aparat berwajib jika menemukan bendera atau simbol-simbol HTI di masyarakat.

Sadarilah kawan! Kita sebagai makhluk hidup terbatas oleh usia, namun hasil pemikiran dan ideologi kita akan tetap kekal. Begitu pun HTI, walau secara organisatoris telah dibubarkan dan dilarang di Indonesia, namun ideologi khilafah ala mereka akan tetap lestari, dan itulah bahaya yang sebenarnya, bahkan lebih berbahaya dari sebuah mortir. Jika mortir hanya bisa merobohkan sebuah gedung, maka sebuah ideologi, dalam hal ini khilafah islamiyah ala HTI berisiko menghancurkan sebuah negara sekaligus meluluhlantakkan moralitas bangsa.

Seperti kita ketahui, pemerintah membubarkan HTI lewat Perppu dikarenakan ideologi ormas ini bertentangan dengan Pancasila, mereka ingin mengganti ideologi negara dengan khilafah, lengkap bersama syariat Islamnya. Tapi anehnya, disadari atau tidak, saat ini, pentolan-pentolan mereka justru mendaratkan dukungan kepada koalisi parpol yang berideologi Pancasila. Sungguh merupakan sebuah kerancuan pola pikir. Keadaan politik negeri semakin penuh dengan paradoksial yang amat dinamis sekaligus membingungkan, situasi yang saling membutuhkan dan kepentingan antar kelompok seakan membutakan mata hati dan mengorbankan kondusifitas negeri.

Yang tak kalah menarik untuk dicermati, Perppu ormas secara yuridis memang berhasil membubarkan HTI, tapi itu tak serta merta berlaku serupa bagi para simpatisannya. Mereka masih hidup, terstruktur, bersembunyi di balik kebhinnekaan bangsa Indonesia, dan bahkan dengan berbekal ideologi khilafahnya ini, mereka sedang mencoba menari-nari di atas kedua kaki. Kaki kiri berpijak pada Khilafah, tapi merelakan kaki kanannya untuk berpura-pura Pancasila. Di satu sisi, mereka dengan Khilafahnya mengharamkan Pancasila dan proses berdemokrasi, di sisi yang lain, mereka mendukung partai oposisi yang sudah jelas berideologikan Pancasila. Mungkinkah sel-sel HTI yang sebelumnya tertidur ini ingin menjadi api dalam sekam antara oposisi, Banser dan pemerintah? waktu yang akan menjawab.

Dari serentetan kajian di atas, orang-orang yang marah terhadap insiden pembakaran bendera HTI ini setidaknya bisa digolongkan menjadi beberapa katagori; pertama, orang yang belum paham sehingga menyamakan kalimat tauhid atau Islam secara umum dengan HTI, kedua, orang yang berpikir pendek dan dangkal sehingga hanya mengandalkan emosi dan kemarahan; ketiga, pemain politik yang hendak mengambil keuntungan dari isu ini dan terakhir adalah simpatisan HTI yang marah karena topengnya terbuka.

Bagi kita yang mau berpikir jernih dan bernalar cerdas, tentu akan melihat persoalan ini dengan senyum damai. Jangan sampai kita menjadi golongan orang yang ingin makan kacang, namun ikut menelan kulitnya mentah-mentah. Terlepas dari huru-hara kalimat tauhid yang kini tengah menguji umat, karena suatu komunitas menjadikannya sebagai identitas (sedangkan mereka adalah sekumpulan yang terlarang), tetaplah menjaga hati agar tetap bertauhid, tauhid yang hakiki, dengan tujuan akhir yaitu mencapai derajat ketakwaan. Ingatlah, bahwa setan adalah musuh kita yang nyata, yang senantiasa menyelinap dari berbagai arah, dari atas, dari bawah, kiri, kanan, depan, belakang, bahkan luar dan dalam.

Jangan mau termakan oleh propaganda, jadikanlah kalimat tauhid bukan sekedar simbol-simbol belaka, namun juga akidah dan keyakinan yang sejati yang tersimpan di dalam lubuk hati. Makna tauhid terlalu agung untuk dijadikan sesuatu yang bersifat profan. Karena pada hakikatnya, segala sesuatu di jagat raya ini pasti membutuhkan Allah, dan beriringan selanjutnya, Allah pun tidak membutuhkan pada apa-apa yang telah Ia ciptakan. Jangan sampai syahwat politik mengalahkan rasionalitas kebangsaan kita.

**

Kini, acap kali ditemui pada setiap acara yang bertajuk bela agama dan semacamnya, liwa dan rayah (yang notabene merupakan simbol-simbol HTI) senantiasa berkibar megah. Gejala ini musti disadari sebagai sebuah proses eksistensi diri di tengah-tengah masyarakat pasca HTI dibubarkan pemerintah.  Jika kita mau sedikit kilas balik ke belakang, tak disangka, bendera tauhid adalah variabel utama yang malah menjadi jalan bagi berakhirnya eksistensi HTI di ruang publik. Dahulu, setiap tahun, HTI punya agenda nasional  di bulan Rajab tahun Islam (hijriyah) untuk memperingati hari runtuhnya Khilafah pada tanggal 28 Rajab. Pada Rajab 1438 (Maret-April 2017), HTI mengambil tema Masirah Panji Rasulullah (Mapara) yaitu acara pawai (yang mereka sebut aksi damai) untuk mensosialisasikan bendera Rasulullah SAW. Kontan, rencana Mapara HTI ditentang oleh sejumlah pihak karena di balik Mapara tercium aroma makar yang amat menyengat. Akhir cerita, HTI dibubarkan pemerintah pada tanggal 19 Juli 2017 melalui Perppu No. 2 Tahun 2017 yang mengatur tentang ormas. Tepat tiga bulan setelah Rajab.

Memang, ada beberapa hadits Nabi Muhammad SAW terkait bendera Tauhid seperti riwayat Imam Ahmad RA, Imam Abu Dawud RA dan Imam An-Nasai RA di Sunan al-Kubra, riwayat Ibn Abiy Syaibah di Mushannaf-nya, dan bahkan Imam Bukhari RA serta Imam Muslim RA, pun meriwayatkan hadits yang menyinggung perihal bendera Rasulullah SAW.  Namun pada hadits-hadits tersebut, jika kita cermati, hanya sebatas informasi (repotase) yang disampaikan  oleh para sahabat Nabi SAW. Tidak ditemukan adanya indikasi dan konotasi tertentu yang menunjukkan perintah dari Nabi Muhammad SAW untuk menggunakan Liwa ataupun Rayah. Pada sekumpulan Hadits tersebut, dijelaskan pula secara cukup detail tentang bentuk dan warna bendera Rasulullah SAW sekaligus menunjukkan perbedaan kegunaan Liwa dan Rayah tanpa ada ‘amr (perintah) kepada umatnya agar berbendera seperti Beliau SAW.  Teks hadits-nya pun tidak mengandung pujian bagi orang yang menggunakan ataupun celaan bagi yang meninggalkan. Tidak ada kata dan frase yang bermakna tuntutan bagi umat untuk berbendera Liwa dan/atau Rayah, sehingga dapat disimpulkan bahwa, menggunakan Liwa dan/atau Rayah serta bendera tauhid pada umumnya adalah mubah.

Jika ditinjau dari konteks, jelas sekali bahwa Rasulullah SAW menggunakan liwa dan rayah dalam konteks politik identitas dari suatu negara di tengah pergaulan antar negara saat itu. Sejalan dengan konvensi internasional yang menyatakan bahwa eksistensi dari suatu negara dilambangkan dengan adanya sebuah bendera.  Inilah fungsi dari Liwa. Adapun Rayah, lebih kepada fungsi adminstratif di dalam negeri, khususnya pada angkatan perang. Di kancah peperangan, bendera menjadi penanda pasukan, sedangkan pemegang bendera adalah panglima atau pemimpin dari sebuah pasukan perang tersebut. Fungsi politik kenegaraan liwa dan fungsi administratif dari rayah merupakan fungsi yang dimiliki oleh setiap bendera negara. Bendera Liwa dan Rayah di masa Nabi SAW tidak memiliki konotasi keagamaan secara khusus.

Dari sisi sejarah, negara Romawi dan Persia juga memiliki bendera yang secara fungsi adalah sama dengan Liwa dan Rayah. Dengan demikian, Liwa dan Rayah bersifat profan, tidak unik, bahkan bukan khas kenabian dan keislaman, karena secara fungsi ternyata sudah dimiliki oleh umat lain sebelum Nabi Muhammad SAW memilikinya di Madinah.

Ditilik dari aspek material pembentuk Liwa dan Rayah, kedua bendera tauhid ini terbuat dari kain yang berwarna hitam dan putih bertuliskan dua kalimat syahadat. Jenis khath yang digunakan HTI dan ISIS pada bendera tauhid mereka pun berbeda. Khath yang manakah yang sama persis dengan khath pada bendera Rasulullah SAW dahulu? Khath versi HTI berbentuk langsing dan runcing ditambah dengan tanda baca/syakl. Dibandingkan dengan khath pada dokumen surat-surat Rasulullah SAW yang tulisan huruf-hurufnya agak gemuk dan gundul, maka secara kemiripan, justru bendera tauhid versi ISIS lah yang lebih mirip dengan khath yang ada pada dokumen surat-surat dan stempel Rasulullah SAW.

937ad7d9-d4a5-468b-923c-ac945146807e

Dua kalimat syahadat merupakan janji bagi orang yang setia kepada ajaran Islam. Jadi, syahadat bukanlah merek atau simbol apapun. Dua kalimat syahadat merupakan sebuah ikrar personal antara seseorang dengan Allah SWT, tidak ada perantara antara keduanya. Namun, bila tulisan syahadat dijadikan indentitas oleh beberapa negara dan/atau ormas Islam, maka, kita musti menyikapi hal itu sebatas sebagai sebuah merek. Yang membedakan antar mereka adalah desain tulisan dua kalimat syahadatnya. Sehingga, jika kita melihat bendera bertuliskan dua kalimat syahadat, kita dapat dengan cepat mengetahui bahwa bendera tersebut adalah indentitas dari siapa dan tidak serta merta merepresentasikannya dengan teologi tertentu, dalam hal ini adalah Islam.

Jadi, berdasarkan bukti-bukti yang telah dipaparkan di atas, bendera Tauhid sejatinya merupakan produk budaya sebagai sebuah simbol atau lambang dari sebuah kelompok. Selain itu, nilai dari sebuah simbol, dalam hal ini adalah bendera, sejatinya terletak pada fungsi, bukan pada bentuknya. Bentuk bendera bisa mengikuti konvensi, konsensus dan adat yang sedang berlaku di masyarakat. Singkatnya, pemameran bendera tauhid oleh HTI atau oknum-oknum tak bertanggung jawab lainnya bukanlah bagian dari syariah islamiyah, namun lebih kepada pembuktian eksistensi suatu kelompok tertentu menuju tujuan-tujuan yang mungkar, seperti halnya; adu domba dan provokasi.

**

Semakin kompleksnya permasalahan yang terjadi di negeri ini kian  mampu menciptakan suasana bangsa ini semakin ngeri dan seakan tidak dapat lagi distabilisasi. Maraknya ‘makar’ yang dilakukan oleh segelintir oknum yang nyata-nyata bertujuan mengguncang kondusifitas negeri ini rupanya sudah mampu memprovokasi dan memancing emosi. Dalam situasi yang genting seperti ini, mari kita berpikir sejenak, sebagai anak bangsa, apakah kita rela negeri kita yang tercinta ini lepas kendali? Apakah kita juga akan membiarkan negeri ini porak-poranda kehilangan jati diri hanya karena ulah segelintir orang yang ingin meruntuhkan NKRI? sebagai putra bangsa, tentunya harapan kita tetaplah sama, bahwa negeri ini bisa gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo.

Oleh karenanya, mari kita sikapi setiap ‘tragedi’ yang tengah terjadi di negeri ini dengan kejernihan hati, sambil terus berharap dan berdoa kepada Rabbul ‘Izzati semoga Ia segera mengembalikan stabilitas bangsa ini. Lepas kontrol dan melampiaskan emosi bukanlah cara untuk menjawab sekian banyak persoalan yang terjadi. Justru malah akan memperkeruh suasana dan pada akhirnya dapat mendegradasi usaha kolektif menuju masyarakat yang madani.

(tas)

 

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

 

Purple and Green Illustrated Swirl Mardi Gras Card

Advertisements

2 thoughts on “‘Tauhid’ yang Terbakar (Sebuah Opini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s