Dakwah dalam Bingkai Ukhuwah

Ukhuwah mestinya dilandasi atas dasar kesadaran dan keinsafan, bahwa setiap manusia hanya bisa memenuhi kebutuhannya bila bersedia untuk hidup bermasyarakat, toh kita memang tercipta sebagai suatu makhluk sosial, yang takkan pernah bisa menafikkan proses bersosialiasi. Dengan bermasyarakat, manusia berusaha untuk mewujudkan kebahagiaan dan menolak ancaman yang membahayakan diri mereka. Persatuan, ikatan batin, saling membantu dan keseia-sekataan merupakan sebuah prasyarat dari timbulnya persaudaraan (ukhuwah) dan kasih sayang yang menjadi landasan bagi terciptanya tata kemasyarakatan yang baik dan harmonis, lebih jauh kedepan, menjadi sebuah keniscayaan dalam proses pembentukan suatu ekosistem yang madani.

Tujuan utama kita sebagai agent of change adalah mempersatukan langkah dari setiap unsur penyusun masyarakat dalam melakukan kegiatan-kegiatan untuk menciptakan sebuah kemaslahatan umum, kemajuan bangsa dan ketinggian martabat manusia. Gerakan sosial dan/atau keagamaan ini, tentu tak bisa dilepaskan dari sebuah visi bersama yang dimaksudkan untuk turut membangun dan mengembangkan masyarakat yang bertakwa kepada Tuhan, cerdas, terampil, berakhlak mulia, tenteram, adil dan sejahtera.

Sebagai masyarakat Indonesia yang bernafaskan Pancasila, kita merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat dunia yang mustinya senantiasa berusaha memegang teguh prinsip keterbukaan, persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan, sehingga mampu untuk hidup berdampingan dengan apapun yang menyebut dirinya makhluk Tuhan. Selain itu, sebagai sebuah masyarakat dunia yang mengidamkan perdamaian dan mengutuk keras imperialisme, kita musti senantiasa menyatukan diri dengan setiap unsur perjuangan dan ikut aktif mengambil bagian dalam pembangunan menuju masyarakat adil dan makmur yang diridlai oleh Tuhan Yang Maha Kasih.

***

Kata ukhuwah berasal dari bahasa Arab, adalah bentuk abstrak dari kata akhun. Struktur katanya sama dengan kata bunuwah dari kata ibnun yang artinya anak laki-laki. Akhun dapat berarti saudara, dalam bentuk jamak disebut ikhwah, dapat pula diartikan kawan, diubah ke bentuk jamak menjadi ikhwan. Sehingga, kata ukhuwah menurut bahasa, bisa diartikan sebagai kesaudaraan/persaudaraan atau kekawanan/perkawanan.

Sehari-hari, dua pengertian tersebut telah jamak digunakan. Dalam konteks keislaman, dalam Al-Qur’an kerap kali dijelaskan bahwa hubungan antar kaum mukmin disebut ikhwah, bukan ikhwan, yang berarti bahwa orang mukmin bukan sekadar teman bagi mukmin yang lain, namun lebih dari itu adalah saudara, walau di ayat yang lain ada pula yang disebutkan sebagai ikhwan. Pada prinsipnya, ukhuwah islamiyah, dapat diartikan sebagai hubungan persaudaraan atau perkawanan antar sesama umat Islam, dalam konteks keindonesiaan adalah seluruh umat Islam yang ada di Indonesia (terlepas dari apapun partai, gerakan, maupun ormasnya).

Ukhuwah islamiyah, seperti lazimnya hubungan persaudaraan antar anggota keluarga tertentu, sebagai suatu komunitas, tentu mengandung nilai-nilai pengikat yang khas, baik yang disepakati bersama, yang tumbuh dari keyakinan dogmatis, maupun yang tumbuh secara naluriah. Tetapi, meskipun ada pengikat yang amat kuat dan melekat sekalipun, bukan berarti hal ini menegasikan perbedaan di antara mereka. Sebagai umat, masing-masing mempunyai ciri, watak, latar belakang kehidupan dan wawasan yang berbeda satu sama lain.

Unsur pengikat dalam upaya menumbuhkan ukhuwah islamiyah adalah keimanan atas Allah SWT dan RasulNya, Muhammad SAW. Ikatan akidah inilah yang paling kuat dibanding dengan ikatan darah sekalipun. Ia merupakan pondasi yang amat kokoh untuk suatu bangunan yang disebut ukhuwah islamiyah. Rasa dan keyakinan akan satu Tuhan, satu Rasul dan seiman, mustinya mampu menumbuhkan rasa cinta kasih yang mendalam, yang kemudian diejawantahkan dalam sikap dan perilaku yang luhur, sarat dengan nilai akhlakul karimah dan solidaritas sosial yang tinggi. Di sini dituntut adanya kesadaran akan hak dan kewajiban antar sesama muslim dan mukmin.

Meskipun ada perbedaan, kebhinekaan dan keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan, hal itu mustinya tidak serta merta berakibat munculnya permusuhan, perlawanan maupun saling hasut, karena kuatnya pengikat tersebut (iman dan akidah). Jika ditarik ke dalam konteks keindonesiaan, ukhuwah islamiyah antar warga negara mempunyai titik temu pada suatu kesamaan geografis. Keinginan untuk berbuat baik bagi kemaslahatan umat atau masyarakat di Indonesia yang tercinta ini. Upaya mewujudkan kemaslahatan itu secara kongkrit merupakan partisipasi nyata dalam pembangunan manusia seutuhnya. Kita semua pada prinsipnya ingin mengejar kemajuan, menghilangkan keterbelakangan, mengurangi kemiskinan dan mengikis kebodohan. Baik miskin secara materi, ilmu, moral ataupun miskin iman. Ukhuwah yang menumbuhkan sikap saling melengkapi kekurangan dengan dasar ikhlas dan saling pengertian yang luas demi kemaslahatan, merupakan potensi yang selalu didambakan. Tentu saja dalam hal ini masing-masing kita berada pada posisi sesuai dengan porsi dan potensi yang dimiliki.

 

***

Memang harus diakui dan tak mungkin dinafikkan bahwa realisasi ukhuwah islamiyah tidak semulus yang ingin dicapai. Di sini perlu telaah yang mendalam mengenai faktor-faktor penghambat. Secara umum dapat dikemukakan antara lain;

(1) adanya fanatisme buta dan rasa ujub yang berlebihan. Faktor sektarian ini kadang sampai pada penilaian benar-salah yang mengakibatkan ketegangan atau kesenjangan tertentu.

(2) sempitnya wawasan, ketertutupan dan kurang atau bahkan tiadanya silaturahmi dan dialog guna mencari titik-titik kemaslahatan. Lebih dari itu, faktor penghambat utama adalah,

(3) tingkat akhlak yang relatif masih rendah, sehingga sering timbul sikap tahasud, saling mencela, ghibah, dan bahkan saling mengkafirkan atau memunafikkan. Khusus poin ketiga ini, perlu menjadi perhatian serius oleh setiap kita, kenapa? karena, yang mengetahui semua rahasia hanyalah Allah SWT. Oleh karena itu, bukanlah porsi kita untuk mencampuri urusan antara hamba dengan Tuhannya. Perlu kita sadari bahwa pada hari kiamat kelak, kita tak akan ditanya, “Mengapa engkau tidak mencela si fulan?” Bahkan, walaupun kita tidak mencela iblis sepanjang hidup dan melupakannya, kita tetap tak akan ditanya tentang hal itu serta tak akan dituntut karenanya pada hari kiamat. Tapi, jika kita mencela salah satu makhlukNya, barulah kita akan dituntut. Janganlah kita begitu mudah mencerca, baik itu hewan, makanan, ataupun manusia. Janganlah kita begitu mudah memastikan seseorang yang masih menjadikah Ka’bah sebagai kiblatnya sebagai seorang yang kafir, atau munafik. Bahkan Nabi SAW sendiri sama sekali tidak pernah mencela makanan yang tidak enak. Jika beliau berselera dengan sesuatu, beliau memakannya. Jika tidak, beliau tinggalkan. Sungguh benar firmanNya yang menyatakan bahwa dalam sosok Rasulullah SAW terdapat uswah hasanah, yang mestinya dapat kita teladani sebagai umatnya.

Hambatan selanjutnya yang juga dinilai paling mendasar adalah,

(4) lemahnya kesadaran dan rasa kasih sayang terhadap sesama. Padahal Rasulullah SAW sampai-sampai menekankan dan menggantungkan iman seseorang, pada sejauh mana ia mencintai sesamanya seperti halnya mencintai dirinya sendiri. Yang terjadi kini, justru sebaliknya, seorang mukmin kurang mensyukuri, bahkan tidak senang melihat kesuksesan mukmin lain, terkadang malah lebih senang melihat kegagalannya. Di sini, sering terjadi sikap kompetisi yang kurang sehat, sikap ingin mendominasi segala-galanya dan mengklaim apa saja yang berwatak positif bagi diri dan kelompoknya sendiri.

Semua hambatan di atas ada bukan tanpa solusi, upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut pada hakikatnya dapat dilakukan oleh semua pihak secara kolektif, untuk pada gilirannya ukhuwah itu sendiri yang akan menjadi sebuah potensi yang sangat bermanfaat, bukan saja bagi kelompoknya, namun bagi seluruh warga negara Indonesia. Terciptalah kemudian sikap kebersamaan dalam keberagaman. Hal ini juga merupakan cerminan dari kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang termaktub jelas pada semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’.

Kemudian, bagaimanakah menghilangkan atau paling tidak memperkecil porsi sektarianisme dalam berbagai bidang yang menyangkut aspek-aspek kehidupan bernegara? Bagaimana pula meningkatkan sikap dan perilaku akhlakul karimah serta mengembangkan sikap toleran, moderat namun tetap pada koridor syariat? Bagaimana pula melembagakan silaturahmi dan dialog untuk mencari titik maslahah untuk menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus budaya dan perubahan nilai? Semua pertanyaan ini memerlukan jawaban yang jelas dan konseptual, yang dapat dirumuskan dalam forum-forum yang lebih serius.

Namun yang lebih penting, sebelum semua pertanyaan di atas akan dijawab, ada satu pertanyaan yang sangat mendasar, yang jawabannya akan sangat mempengaruhi atas perlu tidaknya pertanyaan yang lain dicari jawabannya. Pertanyaan yang dimaksud ialah,

‘Apakah kita benar-benar berniat menegakkan ukhuwah islamiyah di Indonesia?’

 

(tas)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

 

Monochrome Patterned Social Media Day Social Media Graphic (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s