Persepakbolaan Nasional yang Berperadaban, Kapan?

Indonesia, khususnya dunia persepakbolaan nasional kembali dihebohkan oleh isu adanya pengaturan skor. Isu ini mencuat setelah Andi Darussalam Tabusalla, mantan manajer timnas pada piala AFF 2010, memberikan klarifikasi mengenai dugaan adanya insiden pengaturan skor/match fixing pada laga final antara timnas garuda kontra harimau malaya di stadion bukit jalil, kuala lumpur, Malaysia. Statement Bung Andi ini disampaikan secara langsung dalam program Mata Najwa yang berjudul PSSI Bisa Apa? Jilid 2 pada rabu, 19 desember 2018, 8 tahun berselang paska insiden.

Black and Green Soccer Blog Header

Sungguh menjadi ironi jika memang apa yang disampaikan oleh bung andi adalah sebuah kebenaran. Keterlibatan dari punggawa timnas seperti halnya keterangan beliau tentu mencoreng harkat dan martabat bangsa. Pertaruhan harga diri bangsa melalui pertandingan sepak bola yang harusnya berlandaskan sportivitas, kini hanya berharga sebatas meja judi yang mengenyangkan sebagian pihak.

Yang menarik dicermati dan ditelisik lebih jauh dari semua ini adalah rasa kecintaan terhadap bangsa. Siapapun yang mengaku sebagai warga negara, mustinya berkewajiban dalam membela dan menjunjung tinggi harkat dan martabat negaranya. Bukan malah mempertaruhkannya di hadapan para mafia hanya untuk kepentingan kelompok. Sungguh jika memang demikian, maka pengkhianatan semacam ini perlulah kiranya ditimpali hukuman yang sepadan.

Rasa cinta tanah air mustinya menjadi dorongan fitrah yang sangat kuat dalam jiwa setiap warga negara. Tanah air kita Indonesia adalah sebuah rumah yang kita tinggali. Maka, mencintainya adalah sebuah kewajiban. Menjaganya dari segala unsur yang ingin merusak dan menghinakannya adalah sebuah keniscayaan yang musti diperjuangkan.

Adakah di sini kerusakan moral yang teramat sangat hingga sebegitu mudahnya (jika memang benar isu dan/atau insiden match fixing tersebut) mengorbankan kebanggaan bangsa demi sebuah timbunan dolar yang nilainya fana dan tak seberapa. Jika benar demikian, maka bersiaplah, kita sedang hidup di sebuah wilayah yang disebut-sebut sebagai cuilan surga bersama dengan iblis yang ber-rupa manusia. Kita sedang menuju era negara miskin yang ditopang oleh bangsa yang (sebenarnya) kaya.

Yang membuat negara ini menjadi miskin adalah perilaku dari iblis yang telah saya sebutkan sebelumnya, iblis yang dibentuk selama bertahun-tahun, justru oleh pendidikan dan kebudayaan bangsanya sendiri. Jadilah ia iblis ketika ia enggan mentaati  sekaligus menafikan 10 prinsip kehidupan berbangsa sebagai berikut;

  1. Beretika dan punya rasa malu.
  2. Berintegritas/tidak gila jabatan.
  3. Bertanggung jawab.
  4. Taat Hukum, aturan dan tidak korupsi.
  5. Mencintai profesinya.
  6. Hemat dan berinvestasi.
  7. Positif thinking.
  8. Menghargai dan tepat waktu.
  9. Selalu produktif dan rajin.
  10. Menghargai perbedaan kepercayaan dan ideologi.

Si iblis yang terlibat dalam pusaran mafia bola, tentu tak akan mengikuti dan bahkan menjalankan prinsip-prinsip dasar ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bangsa dan negara kita ini tidak akan pernah miskin karena kekurangan sumber daya alam, namun kita sudah tentu akan menjadi miskin jika kita sebagai manusia yang memilih untuk bernegara, tidak memiliki perilaku yang positif. Kita akan terus menerus menjadi semakin miskin jika tidak memiliki kemauan untuk mengikuti dan mengajarkan prinsip-prinsip kerja masyarakat dengan peradaban yang maju.

Kita akan menjadi negara miskin karena manusianya hanya sibuk mengambil keuntungan dari orang lain. Menggemukkan perutnya sendiri, memakmurkan keluarganya pribadi, tanpa memperdulikan kesejahteraan orang lain dan nasib bangsanya ke depan. Apabila kita memilih menjadi iblis yang hanya senang memikirkan diri kita sendiri, maka sampai kapanpun kita tidak akan dapat memperbaiki negara dan bangsa ini.

Ingatlah, kita sebagai manusia, hidup dengan menatap ke depan, sebagaimana waktu yang seharusnya berputar. Masa lalu perlu diingat sebagai bagian dari kenangan dan pembelajaran hidup, namun tak perlu disesali. Jikalau benar ada insiden yang memalukan dan bahkan menciderai rasa nasionalisme, maka mari kita jadikan pembelajaran untuk lebih dewasa dalam menyikapi masalah.

Kehidupan berbhinneka tak selalu sesuai dengan keinginan kita. Selalu ada saja masalah dan perbedaan pendapat, namun semuanya hadir sebagai sebuah pengalaman, dan pengalaman senantiasa ada bersama kebijaksanaan.

Dari kasus yang masih akan ditangani oleh satgas yang dipimpin langsung oleh Kapolri ini, harus bisa kita jadikan pelajaran. Salah satu hikmahnya adalah, banyak hal yang bisa menjadi faktor kejatuhan sebuah bangsa, namun satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkan kita sebagai sebuah bangsa dan negara adalah sikap bangsa kita sendiri.

Ada sesuatu yang bisa dibilang sebagai simbol bersama yang diakui semua orang dalam sebuah komunitas besar atau bahkan dalam kemanusiaan, misalkan perdamaian, kejujuran, keadilan dan sebagainya. Di manapun, hal-hal itu dijunjung tinggi, maka akan diapresiasi oleh semua orang. Demikian sebaliknya bila hal-hal itu dinodai, maka akan dihakimi oleh siapapun. Gejolak yang ada sekarang pun, dapat dimaklumi, karena merupakan manifestasi dari simbol-simbol kemanusiaan yang telah diciderai dan bahkan dilecehkan oleh beberapa oknum mafia bola.

Membangun peradaban berbasis akhlak tampaknya saat ini menjadi sebuah kebutuhan mendesak bagi setiap bangsa, tak terkecuali bangsa kita Indonesia. Hal ini dilandasi oleh fakta kian menguatnya kejahatan beserta varian dan turunannya yang telah memicu keprihatinan sekaligus memacu kepedulian untuk bergerak kembali pada penguatan keilmuan dan ketaqwaan.

Pendekatan berbasis akhlaq ini dapat pula diartikan sebagai kritik keras atas berbagai pendekatan yang selama ini tidak berjalan optimal, tidak menyentuh ‘isi kepala’ dan secara tidak sadar malah mengabaikan potensi dari pengkhianat bangsa (seperti halnya mafi bola) sebagai seorang manusia yang tak pernah menutup kemungkinan suatu saat dapat berubah. Sebaliknya, selama ini pendekatan penghakiman yang dilaksanakan justru terlihat lebih menjadikan para mafia bola sebagai ‘tubuh tanpa jiwa’ yang hanya melakukan ‘ritual-ritual’ kelaziman tanpa menumbuhkan kesadaran akan nasionalisme dan patriotisme pada diri mereka.

Tradisi inilah yang melahirkan peradaban luhur dalam sejarah pergulatan umat manusia dalam membangun kehidupan, kendati pada prosesnya, harus bertarung dengan segala bentuk kepicikan dan dogmatisme. Sebuah peradaban yang nantinya akan membuahkan keadaban nan adiluhung, salah satunya adalah kejayaan sepakbola nasional.

Amat penting bagi kita untuk bersama-sama sebagai sebuah bangsa melihat persoalan secara holistik dan menyikapinya secara bijak. Tuntutan mulia ini perlu dibumikan melalui mobilisasi bersemangat militansi tinggi agar menjadi pendidikan kebangsaan dan pencerdasan kenegaraan. Dengan begitu, siapa pun tidak lagi mudah terpancing untuk melakukan sebuah pengkhianatan terhadap marwah negara karena telah terbentengi oleh tradisi keakhlaqan.

Sudah saatnya kita sebagai warga negara untuk proaktif urun rembug menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Pemerintah saja kurang cukup, PSSI saja apalagi. Harus ada campur tangan kita sebagai pecinta bola tanah air supaya fungsi pengawasan dapat berjalan dengan optimal.

Jika ini diartikan sebagai sebuah intervensi politik, maka tidak masalah. Politik tidaklah sepenuhnya kotor. Sejatinya, yang membuat kotor bukanlah perbuatannya, tapi siapa yang berbuat. Bukan politiknya, tapi politisinya. Berbangsa bukanlah sekedar taat pajak belaka, kecintaan seseorang terhadap negaranya tidak melulu dilihat dari keistiqamahannya dalam membayar pajak. Supporter bola tak melulu dibatasi oleh pagar stadion, kini kita sudah harus mampu berbuat lebih. Membangun panti asuhan, mengembangkan industri merchandise, menyusun koreografi keren di tribun, adalah sebagian usaha yang telah dilakukan supporter bola Indonesia yang tentunya patut diapresiasi bersama.

Bernegara atau setidaknya mendukung tim sepakbola kebanggaan, adalah sebuah proses sosial. Dimana kesalihan seorang supporter juga diukur dari seberapa banyak waktunya dihabiskan untuk berkarya dan memberikan kebanggaan terhadap tim yang didukungnya, lebih jauh, kepada negaranya. Urun rembug, musyawarah, dan bahkan berpolitik bukanlah hal yang tabu, ini semua adalah suatu komponen kehidupan yang tak terpisahkan dari setiap bangsa, termasuk Indonesia.

Jangan pernah ragu untuk mengutarakan sebuah kebenaran senyampang kita telah memenuhi kewajiban terkait dengan adab. Sebagaimana termaktub dalam konstitusi bahwa kebebasan berpendapat itu dijamin, kita pun memiliki wewenang informal untuk bicara dan membantu fungsi pengawasan. Cukuplah kiranya negeri kita dirampok oleh oknum-oknum tiran yang tak berperasaan, membuat rakyat kecil tersisih bahkan terabaikan, mengorbankan dunia persepakbolaan yang sejatinya penuh kebanggaan, terselimuti oleh kecurangan, kebohongan, dan pengkhianatan.

Kita sebagai rakyat, terlebih supporter bola Indonesia, hakikatnya tak membutuhkan kemiskinan maupun kekayaan, keduanya belum tentu mampu membuat kita hidup. Mari kita hentikan persekongkolan dan pengkhianatan, kita hanya butuh kejujuran dan keadilan, yang dapat mensejahterakan kemanusiaan serta mendekatkan diri kepada Tuhan, demi persepakbolaan nasional yang berperadaban.

(/tas)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

Kolong Kata

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s