Tsunami dan Fakta Ilmiah Dibaliknya

Baru saja rakyat Indonesia berduka karena tsunami dan gempa bumi yang menerjang Kota Palu, Donggala dan sekitarnya. Kini kita semua kembali dikejutkan dengan musibah tsunami yang menerpa daerah di sekitar Selat Sunda (Pandeglang dan Lampung Selatan). Ratusan orang menjadi korban dan jutaan pertanyaan lamat-lamat hinggap di benak kita semua. Mengapa tsunami dan bencana alam seperti ini bisa terjadi lagi? Kemudian berbagai jawaban kita terima secara masif. Mulai dari jawaban serius seperti lemahnya mitigasi bencana di Indonesia, hingga jawaban yang mampu menimbulkan kontroversi seperti azab dari Tuhan atau segala hal yang disangkutpautkan dengan kejadian politik. Seperti ilmu cocoklogi saja, semua bisa dikaitkan. Jangan-jangan di masa depan, kabar asmaramu yang rumit itu sist, bisa-bisa dikaitkan dengan pemanasan global. Duhai manusia tolong berhentilah mengaitkan sebuah bencana alam dengan hal-hal yang tidak relevan.

Guys, di tengah derasnya arus informasi tersebut, kita tentu akan dihadapkan dengan berbagai macam jenis asumsi. Namun kali ini, lebih baik kita bahas saja fakta ilmiah yang ada di balik kejadian tsunami. Beberapa fakta ilmiah yang sepertinya wajib diketahui masyarakat awam adalah:

  1. Indonesia terletak di daerah yang dinamakan ring of fire. Dikelilingi oleh banyak gunung dengan aktivitas volkanik yang tinggi. Sudah jelas sekali, bahwa akan banyak aktifitas alam yang akan terjadi dan berdampak pada negeri ini. Seperti sebuah postingan yang sempat ditulis oleh Fahd Pahdepie melalui instagramnya bahwa Rakyat Indonesia adalah penyintas bencana. Manusia yang hidup bertahan di ring of fire, adalah manusia terpilih!
  2. Tsunami yang terjadi di Selat Sunda tempo hari, merupakan tsunami yang disebabkan oleh aktivitas vulkanik bukan merupakan tsunami yang diakibatkan oleh gempa tektonik. Menurut para ahli seperti Professor peneliti tsunami di Southampton University mengatakan bahwa tsunami merupakan salah satu bencana alam yang cenderung susah untuk diperkirakan. Memang betul ada teknologi yang digunakan sebagai peringatan dini akan tsunami yakni berupa buoy atau sejenis alat yang dipasang di titik-titik tertentu di perairan. Akan tetapi harga alat tersebut sangatlah mahal dan perawatannya juga relatif sulit. Meski sudah dipasang buoy belum tentu juga kedatangan tsunami akan dengan begitu mudah diperkirakan. Jadi bukan salah siapa-siapa, tsunami merupakan peristiwa alam yang memang susah diprediksi, apalagi tsunami kemarin merupakan gabungan dari aktivitas vulkanik dan laut pasang.
  3. Ada 4 aktivitas Gunung Krakatau yang mampu memicu terjadinya tsunami. Dikutip dari detik.com menurut Gegar Prasetya, salah satu pakar tsunami di Indonesia, 4 aktivitas tersebut adalah; erupsi yang menyebabkan terjadinya guguran material sehingga longsor akan terjadi di dalam laut, kolaps yakni runtuhnya dinding gunung seperti yang terjadi saat tsunami di banten dan lampung, piroklastik saat terjadi letusan dengan gerakan cepat dan eksplosif (ledakan) seperti yang terjadi pada tahun 1883.
  4. Peneliti di BPPT pernah memprediksi bahwa akan ada tsunami setinggi 57 meter yang akan menerjang daerah Pandeglang. Tentu saja ini masih berupa hasil penelitian sementara namun, meski tidak setinggi yang diperkirakan, tsunami pada kenyataannya benar-benar terjadi. Dikutip dari tirto.id pakar tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, menyatakan bahwa masih ada potensi untuk terjadi tsunami susulan dikarenakan aktivitas gunung krakatau yang belum mereda. Masyarakat pun dihimbau untuk tetap siaga dan waspada.

Hal-hal tersebut merupakan fakta-fakta ilmiah yang mungkin harus diketahui oleh pembaca. Daripada kita disibukkan dengan ilmu cocoklogi bencana yang tersebar di grup obrolan media sosial, atau sibuk menerka-nerka kejahatan apa yang dilakukan bangsa sehingga menerima azab sedemikian rupa— lebih baik kita berusaha bersikap bijak dalam menanggapi isu bencana, seperti berdoa dan melakukan sesuatu untuk membantu korban terdampak.

Bahwasanya tsunami dan bencana alam sungguh merupakan salah satu fenomena yang mau tidak mau harus dihadapi oleh negeri ini. Kondisi geografis Indonesia-lah yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Akan ada banyak sekali PR untuk pemerintah dan peneliti/ilmuwan Indonesia untuk bisa mengatasi dampak tsunami dan melakukan tindakan preventif sebelum terjadinya bencana.

Bagi kalian yang tertarik untuk menjadi ilmuwan geologi dan kelautan, peluang akan terbuka lebar sekali. Akan menjadi sangat keren apabila Indonesia memiliki ahli geologi yang mampu menjawab semua kekhawatiran di dunia tentang penanganan bencana alam— khususnya tsunami yang masih menjadi misteri empuk untuk diteliti. Untuk informasi saja, ilmuwan di Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara-negara lainnya. Menurut UNESCO, Indonesia memiliki <100 ilmuwan per 1 juta penduduk, sangat jauh dibandingkan dengan negara maju seperti jepang yang memiliki >2000 ilmuwan per satu juta penduduk. Wow! mencengangkan bukan? Bahkan Malaysia negara tetangga, jumlah ilmuwannya sudah menyamai Jepang untuk tiap satu juta penduduk.

Andai Kak Nisa Sabyan urun pendapat, dia pasti akan berkata Hem~ selama 10 Jam.

(/dan)

Blue Wave Paint Brush Stroke Bar Lounge Facebook Cover Photo

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s