Uighur yang Kini Masyhur

Belakangan ini, telah viral di berbagai media massa terkait dengan slogan ‘bela muslim Uighur’. Hal ini dilatarbelakangi oleh isu yang mengabarkan bahwa kaum Uighur (khusunya yang beragama islam) di Xinjiang, Tiongkok ‘dilarang beragama’ dan bahkan mengalami penganiayaan oleh Pemerintah.

Sebelum menyelam lebih jauh menuju palung isu uighur, hendaknya kita membekali diri dengan sedikit pengantar siapakah uighur dalam hal ini. Oke, kita mulai dari subyek yang diperdebatkan, atau lebih tepatnya diisukan, warga Uighur. Warga Uighur berdomisili di daerah Xinjiang, Tiongkok. Tapi, mereka lebih teridentifikasi sebagai suku Turk, yang justru berkomunikasi dengan bahasa Turki. Sebagian besar dari mereka tidak menguasai bahasa Mandarin sebagai bahasa sehari-hari. Secara kebudayaan, warga Uighur ini juga jauh berbeda dengan etnis Han, yang merupakan etnis terbesar di Tiongkok. 

Variabel selanjutnya adalah Xinjiang. Xinjiang adalah suatu wilayah di daratan Tiongkok yang berbatasan dengan banyak negara. Sebut saja Kazakhstan, Tajikistan, Rusia, Mongol, Pakistan, Afganistan dan India.

Nah, dari fakta-fakta di atas, kita bisa beranjak menuju pokok permasalahan, apa yang sebenarnya terjadi pada warga Uighur sehingga dalam beberapa bulan terakhir, muslim Uighur menjadi buah bibir masyarakat muslim Indonesia, lebih jauh memicu sebuah pergerakan massa bertajuk ‘bela muslim Uighur’. Hal tersebut berkaitan dengan tindakan Pemerintah Tiongkok terhadap muslim Uighur di Xinjiang yang dinilai melanggar hak asasi manusia. Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Human Right Watch menyebut, Tiongkok telah melakukan ‘penahanan’ secara sewenang-wenang terhadap muslim Uighur. Sementara, otoritas Tiongkok menolak tuduhan tersebut. Pemerintah Tiongkok berdalih, apa yang dilakukannya adalah serangkaian program untuk mencegah penyebaran ideologi radikal yang menginginkan Xinjiang berpisah dari Tiongkok.

Duta Besar (Dubes) Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian dalam sebuah kesempatan menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi terhadap muslim Uighur di Xinjiang dan bagaimana kebijakan Pemerintah Tiongkok terhadap mereka. Dubes Qian menegaskan, semua masyarakat Tiongkok dari berbagai suku –termasuk Uighur- memiliki kebebasan dalam beragama.

Soal jaminan kebebasan beragama ini, diatur dalam Undang-Undang Dasar Tiongkok Bab 2 Pasal 36. Yang jika dialihbahasakan dapat berarti:


“Warga negara Tiongkok mempunyai kebebasan beragama. Instansi negara, kelompok masyarakat, dan perorangan tidak boleh memaksa warga negara untuk menganut agama atau tidak menganut agama. Tidak boleh mendiskriminasi warga negara yang menganut agama dan yang tidak menganut agama. Negara melindungi aktivitas keagamaan yang normal (zhengchang de zongjiao huodong). Siapa pun tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat merusak ketertiban sosial, merugikan kesehatan warga negara, dan merintangi sistem pendidikan negara dengan menggunakan agama.”


Undang-Undang Dasar Tiongkok Bab 2 Pasal 36

Dari kutipan UUD Tiongkok di atas, dapat kita pahami bahwa Pemerintah Tiongkok menjamin, bukan hanya kebebasan warganya untuk beragama, melainkan pula kebebasan mereka untuk tidak beragama. Sedangkan bagi yang beragama, Pemerintah akan terus berusaha mengayomi, sepanjang aktivitas keagamaannya tetap berada dalam koridor ‘normal’ alias tidak melanggar norma dan hukum yang berlaku.

Lalu, kenapa isu Uighur sekarang meledak? Dubes Qian mengatakan, persoalan di Xinjiang sejatinya merupakan persoalan separatisme. Ada sekelompok orang yang memiliki rencana untuk membuat Xinjiang berpisah dari Tiongkok. Sejarah mencatat, orang-orang Uighur—terutama yang tinggal di Xinjiang bagian selatan—memang sudah lama ingin memerdekakan diri dari Tiongkok. Bahkan sejak Tiongkok masih dikuasai oleh Dinasti Qing. Yakni sebelum Tiongkok diperintah oleh Partai Nasionalis yang pengaruhnya sejak 1949 disingkirkan Partai Komunis sampai sekarang.

Kini, kita bahas terlebih dahulu soal separatisme yang melibatkan warga Uighur. Sebagian warga Uighur telah mendirikan sebuah gerakan sparatis yang dinamakan East Turkestan Islamic Movement (ETIM). Tujuan gerakan ini adalah melepaskan diri dari kedaulatan Pemerintah Tiongkok, dengan slogan agama sebagai kedoknya.

Kelompok ETIM inilah yang berdekatan dengan Al-qaedah, Taliban bahkan ISIS. Sebagian tentara teroris disuplai oleh orang dari Uighur. Bahkan, di Tiongkok sendiri, beberapa kali telah terjadi aksi terorisme yang didalangi oleh ETIM, yang pada ujungnya menyebabkan konflik rasial, khususnya dengan suku Han.

Nah, karena persoalan inilah, Pemerintah Tiongkok mengawasi orang-orang Uighur secara ketat. Sebetulnya, tidak semua penduduk Uighur berpaham radikal. Hanya sebagian kecil saja. Tetapi, mereka memang terikat kekeluargaan dengan yang lain. Hal inilah yang membuat Pemerintah Tiongkok mencurigai keluarga-keluarga teroris yang masih berada di Xianjiang. Mereka yang keluarganya diketahui bergabung dengan teroris di Afganistan, Suriah, atau Irak akhirnya terkena dampak. Diawasi secara ketat.

Terkait dengan kelompok-kelompok separatis seperti itu, kata Dubes Qian, Tiongkok telah mengambil beberapa langkah kebijakan. Diantaranya mengadakan program pendidikan dan vokasi sehingga mereka memiliki keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan. Menurutnya, program tersebut sukses karena banyak orang yang masuk program pendidikan tersebut kini telah memiliki keterampilan dan gaji.

Selain mengedepankan program pendidikan dan vokasi, Tiongkok juga telah menjalankan kebijakan asimilasi. Anak-anak Uighur diberikan pengajaran mengenai bahasa Mandarin agar mereka bisa berkomunikasi dengan warga lain. Bahkan juga diberi kesempatan untuk bisa bekerja di pemerintahan. Yang mana otomatis mengandung konsekwensi adanya redoktrinasi ideologi negara. Hal-hal inilah yang menjadikan isu-isu soal kamp konsentrasi dimana jutaan warga Uighur wajib menjalani metode pembelajaran.

Tapi memang, tak menutup kemungkinan bahwa dalam proses-proses tersebut ditemui adanya tindak kekerasan. Sebab, tetap ada sentimen rasial dari suku Han yang sering menjadi korban kekerasan oleh ETIM tadi. Pengawasan pada gerakan ekstrimis Uighur menyebabkan sebagian penduduknya mengalami tekanan oleh Pemerintah Tiongkok.

Dari sini, dapat kita pahami bahwa Pemerintah Tiongkok lebih berkepentingan menangani gerakan separatis yang membahayakan wilayahnya ketimbang memberangus warganya yang beragama Islam. Sebab, etnis Hui yang juga beragama Islam, hidupnya biasa saja di sana. Masjid dan mushola banyak berdiri. Acara keagamaan bebas dilaksanakan. Tidak ada tekanan terhadap aktifitas ibadah mereka. Islam etnis Hui bebas berkembang di Tiongkok. 

Hal ini dikarenakan orang Hui tak pernah bermimpi untuk mengibarkan gerakan separatis seperti halnya sebagian warga Uighur. Corak keislaman etnis Hui mirip dengan muslim di Indonesia. Mereka banyak mengikuti ajaran tarekat dan sufisme. Mereka menyatu dengan kebanyakan rakyat  Tiongkok. Berbeda dengan sebagian etnis Uighur yang terimbas pola pikir ekstrimis.

Sejarah mencatat, sejak dulu, kelompok-kelompok separatis Xinjiang memang menggunakan agama (dalam hal ini Islam) untuk melegitimasi gerakannya. Kenapa? Sebab, hanya agamalah yang dirasa mampu dipakai untuk menarik simpati suku lain yang juga tinggal di sana. Andaikan kelompok-kelompok separatis Uighur memakai isu kesukuan, niscaya muslim bersuku Kazakhs yang juga tak sedikit jumlahnya di Xinjiang, akan sulit bersimpati kepada mereka.

Terbukti, bahkan sebagian dari kita, dalam hal ini adalah (sebagian sangat kecil) umat muslim yang berada di Indonesia pun bersimpati—versi lebih lembut dari ‘terkompori’. Padahal, yang dibidik oleh Pemerintah Tiongkok—baik tatkala masih kedinastian maupun sekarang yang komunis—bukanlah agamanya. Juga bukanlah muslim yang moderat. Melainkan kelompok-kelompok separatis yang menggulirkan sentimen agama guna mencapai tujuan politiknya.

Anehnya, kelompok-kelompok separatis ini, agaknya tidak benar-benar berniat memperjuangkan Islam. Terbukti, pada 30 Juli 2014 silam, Jüme Tahir, imam besar Masjid Id Kah Xinjiang yang terkenal moderat dan pro-Pemerintah itu pun dihabisi dengan keji selepas memimpin salat Subuh.

Akhirnya, yang perlu kita pertanyakan bersama adalah, siapakah yang musti kita bela? Apakah Muslim Uighur yang moderat? Meski sebenarnya mereka juga tak perlu dibela dengan pembelaan yang semembahana ini, karena kebebasan mereka sudah jelas masih terjamin, mereka masih bisa beribadah dan berbisnis laiknya sedia kala.

Atau, jangan-jangan kita malah membela muslim Uighur yang suka membikin gaduh suasana Xinjiang dengan memakai kedok agama untuk meraih agenda politiknya? Ingatlah wahai saudaraku semua, justru muslim garis kaku yang demikianlah yang merusak citra Islam sebagai agama yang damai, bahkan menjadikan beberapa tahun belakangan, Islamophobia mempunyai pangsa pasar yang cukup signifikan di Tiongkok.

Kembali pada penggorengan isu Uighur. Tentu hal ini tidak bergulir dengan alami, jika kita mau mencermati sedikit keadaan ekonomi global, kita ingat, ada beberapa pihak yang sedang panas-panasnya dengan Tiongkok. Mereka terlibat perang dagang yang keras. Nah, isu Uighur inilah yang kiranya bisa digunakan untuk menekan Tiongkok. Meskipun mereka juga tahu, Uighur adalah salah satu supplier teroris dunia. Dengan diangkatnya isu Uighur ini, akan ada tekanan dunia internasional, khususnya dari negara-negara Islam kepada Tiongkok.

Seperti biasa, isu Uighur juga menjadi makanan empuk di Indonesia. Hingga belakangan, ramai-ramai lah sebagian orang kita berteriak membela Uighur lalu menuding Pemerintah Tiongkok memerangi Islam. Mereka tidak sempat melihat fakta dari sisi gerakan separatisnya. Sama persis ketika mereka juga berteriak Save Aleppo, justru ketika para teroris sedang digencet pasukan Suriah di Aleppo.

Tiongkok memang menangani agak keras etnis Uighur. Tapi kita tidak mendengar adanya pembantaian. Berbeda dengan Saudi terhadap Yaman. Rakyat Yaman dibantai. Jalur makanan distop. Mereka dihujani bom. Jutaan anak Yaman kelaparan. Jutaan nyawa rakyat melayang. Masjid dan madrasah pun hancur di Yaman. Tapi, pernahkah kita mendengar slogan Save Yaman di Indonesia? Pernahkah kita mendengar demo di depan keduataan AS atas dukungannya terhadap aksi brutal koalisi Saudi di Yaman? Pernahkah ada demo di kedutaan Saudi memprotes kebengisannya terhadap rakyat Yaman?

Belum pernah, atau tidak akan pernah? entahlah. Mungkin karena isu Yaman tidak menguntungkan untuk dimainkan. Oleh sebab itu, isu tersebut juga tak direspon di Indonesia. Apalagi isu Yaman tidak bisa digunakan untuk kepentingan politik dalam negeri. Ups.

Secara logika, warga Yaman semuanya Islam. Kenapa tak mereka bela? Toh, mau Yaman ataupun Uighur, sama-sama manusia. Mestinya kan tetap dibela? Setidaknya ini adalah pembelaan terhadap kemanusiaan. Apakah pembelaan yang ada di sana-sini sebetulnya tak pernah memperdulikan Islam atau kemanusiaan, hanya sekedar respon pada agenda beberapa tuan?

(/tas)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

Kolong Kata

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s