Ragam Simbolisme dan Entitas Kalbu

Belakangan ini, Masjid Al-Safar yang diarsiteki langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menuai kontroversi. Hal ini dikarenakan masjid yang berada di Tol Cipularang arah Jakarta Kilometer (KM) 88 itu dianggap memiliki simbol-simbol iluminati. Unggahan tentang penafsiran dari salah satu pihak terkait desain masjid tersebut pun ramai diperbincangkan di media sosial, bahkan menjadi satu topik bahasan yang serius di salah satu forum diskusi di Jawa Barat.

Dari isu ini, jika kita cermati dan coba untuk analisa, setidaknya ada dua topik utama yang mendasari ‘perdebatan’ masyarakat dan menarik untuk dibahas; (1) simbolisme di era modern, dan (2) entitas kalbu dalam proses peribadatan.

(1) simbolisme di era modern

Simbolisme menjadi salah satu unsur penguat branding. Melalui sebuah simbol, seorang kreator, baik itu seniman, arsitek, atau ragam profesi lainnya mampu menyelipkan satu pesan, baik secara tersirat atau bahkan tersurat. Namun, dalam perkembangannya, simbol yang juga menjadi bagian penting dari sebuah semiotika senantiasa berkembang, ekspansif, dan multi-tafsir. Terdapat sesuatu yang bisa dibilang sebagai simbol bersama yang kini diakui oleh semua orang dalam sebuah komunitas besar atau bahkan kemanusiaan. Bagi kita yang beragama Islam, kita memiliki kesamaan yang menjadi identitas bersama, sebut saja adzan. Di manapun adzan terdengar, berarti itu adalah tanda bagi seorang muslim untuk berdzikir, mengingat Allah SWT, dan sebagai penanda waktu shalat. Ketika ada suatu pelarangan atau bahkan pelecehan terhadap simbol ini, maka secara otomatis seluruh muslim tentu akan merasa keberatan.

Di sisi lain, ada pula simbol-simbol yang menjadi milik seluruh umat manusia; perdamaian, kejujuran, keadilan, dan sebagainya. Di manapun hal-hal itu dijunjung tinggi, maka apresiasi adalah sebuah keniscayaan. Demikian pula sebaliknya, bila simbol-simbol tersebut dinodai, maka penghakiman akan didapatkan.

Meskipun demikian, ada juga hal-hal umum yang kemudian berkembang menjadi identitas kelompok tertentu saja. Misalnya kain penutup rambut bagi para wanita, dulunya orang dari berbagai agama banyak memakainya sebagai bagian dari pelaksanaan ritual keagamaan, namun sekarang kain tersebut telah menjadi identitas bagi seorang muslimah. Kita menyebutnya sebagai jilbab atau kerudung. Demikian pula kain panjang yang dipakai untuk menutupi tubuh laki-laki dari pundak hingga ke bawah, yang hanya menutupi satu pundak saja dan membiarkan sebagian badan terlihat. Bila kain ini berwarna putih, maka menjadi simbol muslim yang sedang ihram, namun bila kuning, justru menjadi satu simbol bagi seorang Biksu.

Sebaliknya, ada juga yang asalnya simbol kelompok kemudian malah berubah umum menjadi milik bersama, misalnya peci hitam. Dulunya, peci hitam adalah suatu simbol dari pakaian seorang muslim, namun saat ini justru menjadi simbol pakaian nasional, yang mana tak musti muslim yang berhak untuk memakainya.

Hal yang sama mungkin diberlakukan oleh sebagian pihak yang menganggap beberapa bentuk geometri adalah representasi dari sebuah simbol iluminati. Simbol iluminati yang paling umum adalah segitiga, lengkap dengan pucuk yang berupa ilustrasi mata satu. Kata iluminati sendiri merupakan bentuk plural dari bahasa Latin illuminatus (tercerahkan), dapat dimaknai sebagai sebuah nama/entitas yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776. Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama iluminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru. Dalam konteks ini, iluminati biasanya digambarkan sebagai versi modern atau keberlanjutan dari Illuminati Bavaria.

Dalam ajaran islam sendiri, terdapat kasus yang mirip, sebut saja taqiyyah. Sejatinya, taqiyyah adalah adalah sebuah istilah Islam yang merujuk kepada praktik dan kepercayaan penyangkalan atau pembantahan keagamaan dalam menghadapi penganiayaan, dapat juga dimaknai sebagai sebuah bentuk keringanan yang bahkan disebutkan secara literal dalam al-Qur’an. Mayoritas ulama mengakui kebolehan dari taqiyyah, namun ketika taqiyyah berkembang menjadi sebuah simbol Syi’ah, maka para ulama menjauhi kata ini, dan bahkan tak pernah membahasnya. Demikian pula pada sebutan ‘Imam’ bagi Sayyidina Ali kw, meski seluruh kaum muslimin mengakui keimaman Beliau, namun kebanyakan ulama menghindari ucapan ‘Imam Ali’ sebab ucapan ini kian berkembang menjadi simbol Syi’ah.

Saat ini, bagaimana mengaitkan persoalan simbolisme ini dengan konteks bangunan/tempat ibadah yang secara arsitektur mengandung simbol yang telah terlanjur direpresentasikan sebagai sebuah simbol iluminati? Tentu, bagi mereka yang concern dan telah menerima doktrin soal ‘paganisme modern’, kasusnya tidak jauh berbeda, bahkan bisa dibilang sama saja. Ketika bentuk segitiga secara serta merta direpresentasikan sebagai kepanjangan tangan dari sebuah simbol-simbol terkait iluminati, zionisme, dan bahkan dajjal, maka berbagai elemen yang mengandung unsur-unsur tersebut, tak terkecuali sebuah rumah ibadah, secara otomatis telah ‘teracuni’ kesuciannya, di benaknya akan terbayang organisasi-elite-global-nan-rahasia-tapi-amat-berkuasa, bukan lagi sekedar simbol bersama sebagai bagian dari geometri secara keseluruhan. Orang lain yang tidak setuju bisa saja memprotes pengasosiasian simbol ‘bersama’ ini pada sebuah terminologi iluminati dengan berpaku pada keumuman dan fungsi geometri, tapi yang tak bisa dipungkiri adalah bahwa saat ini, hal ini telah menjadi sebuah fakta empiris.

Yang perlu dijadikan perhatian adalah, jika terdapat upaya dari berbagai pihak yang ‘doyan’ menggoreng teori-teori konspirasi untuk menghubungkan beberapa objek yang berkaitan dengan hal-hal konspiratif secara serampangan. Tidak perlu melibatkan lingkaran akademisi untuk menegaskan bahwa metode ini tidaklah saintifik. Meski demikian, tetap ada pihak-pihak yang mempercayai dan membelanya mati-matian. Pihak ketiga yang melihat potensi moneter tentu tak mau ketinggalan melibatkan diri, mereka mulai membisniskannya melalui berbagai penerbitan literatur dengan tema-tema yang tak jauh dari; iluminati, zionisme, dajjal, kiamat, amerika, komunis, yang manifestasinya diklaim ada pada simbol-simbol yang ada di sekitar kita saat ini, dan mengapa umat manusia khususnya komunitas muslim perlu mewaspadainya. Maka, tidak berlebihan jika kita menarik kesimpulan bahwa setiap isu konspirasi apapun yang dilempar kepada publik senantiasa bernuansa politis dan mengancam kondusifitas masyarakat, karena publik seakan dibebaskan untuk memberi persepsi dan bahkan tafsiran.

Masyarakat Indonesia yang majemuk dan mayoritas muslim menjadi sebuah pangsa yang menggiurkan bagi mereka yang memiliki kepentingan. Kemudian, apa yang memungkinkan berbagai isu ini merebak dan menjadi sumber-sumber kegaduhan dalam setiap topik perbincangan? Setidaknya ada 3 faktor utama; (1) adanya sarana internet yang progresif, (2) tradisi ilmiah masyarakat yang lemah, yang mungkin belum mampu secara komprehensif membekali masyarakatnya untuk tahan terhadap analisis serampangan model para pegiat teori konspiratif. (3) Psikologi ancaman, itulah mengapa narasi konspirasi akarnya selalu soal ancaman dari suatu tempat di antah berantah, yang dominan, elite, rahasia, yang diyakini sedang menjalankan tujuan jahat melawan kita demi meraih keuntungan dalam 3G, gold, glory, gospel (ekonomi, kebudayaan, agama, dsb). Mereka, dan mungkin kita, sadar atau tidak, dalam kata lain, adalah korban. Efeknya? Yang paling cepat dirasakan adalah rusaknya bond antar masyarakat sebagai sebuah bangsa, karena mulai tercipta kultur baru; saling curiga dan semangat untuk berbeda.

(2) entitas kalbu dalam proses peribadatan

Segala ritual peribadatan bisa dikategorikan sebagai sebuah dzikir atau secara harfiah berarti sebuah proses untuk mengingat, melepaskan diri dari sebuah kelalaian dengan selalu menghadirkan kalbu bersama Sang Pencipta. Lebih jauh, ibadah atau dzikir secara khusus bisa pula dimaknai sebagai salah satu proses pendekatan diri kepada-Nya melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah, dan bahkan bercerita.

Maka, dengan pemahaman seperti ini, mereka yang berbicara tentang kebenaran Tuhan, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, atau yang mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesungguhnya—dengan berbuat demikian—mereka sedang berdzikir/beribadah. Menurut konteksnya, konsep dari suatu ibadah sangatlah luas, ia bisa dilakukan dengan lisan, kalbu, anggota badan, ataupun dengan ucapan yang terdengar orang. Orang yang beribadah dengan menggabungkan semua unsur tersebut berarti telah melakukan dzikir secara sempurna.

Menurut Imam Al-Ghazali, hakikat dzikir adalah berkuasanya Tuhan di dalam kalbu disertai kesirnaan dzikir itu sendiri. Seorang hamba yang melaksanakan proses peribadatan hendaknya senantiasa mengaplikasikan dzikir lewat gerakan lisan disertai usaha untuk menghadirkan kalbu. Karena, kalbu perlu penyesuaian dengan lisan agar sanggup hadir dalam tiap rangkaian ibadah. Jika dibiarkan, tentu ia akan sibuk dengan berbagai imajinasi yang melintas. Kita akan mudah terpengaruh bahkan oleh sekedar interior sebuah tempat ibadah. Ketika kalbu dapat dihadirkan, kalbu pun bersih dari hal-hal selain Tuhan, terputus dari berbagai bisikan, dan setan pun takkan betah untuk tinggal di dalamnya. Dengan begitu, kalbu menjadi tempat masuknya hidayah Tuhan, serta cermin bagi segala manifestasi dan makrifat ilahiah.

Bumi ini dihamparkan begini luas dan indah sebagai sarana ibadah bagi kita para hamba-Nya, jangan lantas hanya karena adanya simbol-simbol konspiratif yang ada di hadapan kita, ikut mempengaruhi gerak langkah hati kita untuk mendekat kepada-Nya. Tidak bijak jika kita menyalahkan sesimbolan hanya demi menutupi ketidakhadiran hati kita dalam beribadah. Alam semesta ini, langit, bumi, dan segala apa yang ada di antara keduanya, pada hakikatnya eksis dalam sebuah kegelapan, sedangkan yang meneranginya tak lain karena dhohirnya Al-Haq yang ada padanya. Maka barangsiapa yang melihat alam ini, atau sekedar simbol-simbolnya, lantas tak melihat Sang Pencipta di dalamnya, atau di dekatnya, atau sebelumnya, atau bahkan sesudahnya, maka sungguh ia telah disilaukan oleh ‘nur’ dan tertutup oleh tebalnya sesimbolan/benda-benda alamiah ini. Seperti halnya Matahari yang tidak terhijab oleh dzatnya sendiri, melainkan oleh cahayanya, begitu juga Tuhan, yang membikin hijab antara kita dan Tuhan bukanlah Dzat Tuhan itu sendiri, melainkan kelemahan kita dan kemahabesaran nurNya. Jika kita masih tersandra oleh kefanaan indera kita, pencerapan akan nur ilahiah tidak akan pernah terwujud, ia hanya dapat dicerap oleh cerahnya mata hati, yang lepas dan abai terhadap segala macam sesimbolan dan kekhawatiran duniawi. Dengan niat dan mata hati yang khusyuk, kita tidak akan lagi menemukan sesuatu yang tersirat atau bahkan terlukis pada simbol-simbol dan/atau benda-benda (makhluk) selain daripada-Nya, tak peduli apa yang ada di hadapan kita, mau itu segitiga mata satu, segiempat tak bermata, maupun segi-segi kerumitan yang lain. Karena sejatinya, Tuhan tidak mungkin dihijab oleh sesuatu, karena seandainya tidak ada Tuhan, niscaya tidak akan ada pula segala sesuatu.

(/tas)

#Kolong kata membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih jauh. Bisa tinggalkan jejak literasimu di kolom komentar? Terima kasih

Kolong Kata

Sparkling Rainbow Heart Gay Rights Poster

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s